Jumat, 29 Mei 2026

Masih Belum Sembuh

Aku tahu, luka ini belum sembuh sepenuhnya
Residu ini masih ada, bahkan berlapis-lapis
Sesekali alam bawah sadar masih memunculkan memori akibat limerence
Namun menurun sudah intensitasnya
Kekuatan kesibukan bisa mengalahkan bahkan yang telah terpatri bertahun-tahun

Benar bahwa untuk mengalihkan, melupakan, bahkan membuang sesuatu butuh fokus untuk hal lain yang lebih bermanfaat
Aku masih berjuang, ini tidak mudah bagiku
Aku juga tau mungkin bagimu aku hanya membesar-besarkan, tapi aku juga tau, kamu juga masih susah kan? 
Haha, sebelum kamu mendapat yang lain, pasti akan benar-benar susah, dan kamu pasti lapar dan haus ego untuk saat ini
Aku tanya, apakah asupan untuk egomu sangat sekurang itu? 
Bahkan jika supply utama mu adalah pilihan terbaikmu, ia yang menurutnya sudah menberikan segalanya masih saja kurang di matamu

Ah, untuk apa aku mengungkit tentang kalian
Ini duniaku, ini tentangku, dan tentang kesembuhanku
Aku tau luka ini harus segera disembuhkan
Tapi aku masih berproses perlahan
Tidak seperti kemarin yang terlaly cepat
Membuatku juga cepat kembali lagi

Kamu tau, cerita ini rumit dan berbelit-belit
Tapi kamu sudah menyati dg benang yg kusut
Jadi kamu menganggap itu ya rumahmu
Selamanya, kamu tak kan keluar dari kekusutannya
Karena kamu paling nyaman di sana
Bermain tarik-ulur, jungkat-jungkit, dan taktik emosi yang ribet

Sebanyak apapun tulisan ini juga tak kan membuatmu menyadarinya walau hanya sekian persen
Karena kamu memang terlahir dan tumbuh dengan putaran ini
Bagimu ini hanya siklus naik turun
Yasudah, kamu memang sekian persen dari populasi
Dan mungkin bagimu kamu unik, berbeda, dan lebih dari layak

Yasudah apa katamu saja
Aku keluar dari permainanmu
Hanya menyaksikan dari luar lingkaran
Bagaimana dan siapa yang akan kamu tarik bermain dan menemani drama penuh taktik emosional itu

Selasa, 26 Mei 2026

sedikit demi sedikit

Tertawalah karena bayanganmu begitu membekas di alam bawah sadarku. Semua seperti mimpi dan ilusi itu. Bagaimana aku akan menjelaskan pada diriku di alam nyata bahwa aku masih terikat di dalam diriku sendiri.

Aku tak melihat dirinya begitu nyata, hanya saja residu dari perasaan ini tertinggal begitu kuat. Seperti racun yang sesekali kambuh saat diri tak terkendali dan tak mendapat asupan gizi untuk psikisnya. Kamu tau dengan jelas siapa kamu di hidupku dan seberapa keras aku ingin menghapusmu, walau aku telah tau bagaimana kamu yang sesungguhnya. Kamu menarik telepati begitu dalam, karena kamu tau mungkin aku bisa menerima semua dirimu yang polos dengan noda ataupun tidak, namun aku tak kau anggap sebagai manusia utuh, hanya benda mati yang dapat kamu manfaatkan sesukamu tanpa banyak usaha.

Aku tau kenyataan begitu pahit dan kamu akan mengatakan semua berawal dariku dan kamu hanya mengikuti, bukankah itu sangat tidak bertanggungjawab. Ya baiklah, yasudahlah, memang kamu begitu dari sananya. Berkat yang hanya beberapa persen orang di dunia ini miliki, taktik emosional yang sudah terlatih mengelabui mangsa dan mengendalikannya sesuka hati dan di saat yang kamu inginkan saja.

Sebenarnya ikatan ini begitu mudah untuk dilepas, hanya saja karena terlalu kuat jadi meninggalkan bekas yang begitu dalam, memar yang sangat membiru bahkan keunguan. Hanya butuh waktu hingga penawar racun dan obat-obat itu menyembuhkan luka-lukanya baik dari dalam maupun dari luar.

Sementara waktu terus berputar, aku hanya sibuk untuk menyembuhkan. Terserahlah padamu, mau sembuh tak mungkin, mau berulah lagi susah bagimu mendapat supply yang begitu taat pada manipulasimu. Yasudah terserahlah padamu, yang penting jangan kamu tarik aku lagi ke dalam medan magnetmu. Lelah jiwa dan raga ini.

Aku sudah bertahun lamanya mengeluh tentang ini, sudah saatnya aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya. Aku mengakui aku terluka, aku kesakitan, dan aku ingin menyembuhkan. Pahami bahwa diamku untuk mengalihkanmu, batas ini akan menyadarkanmu bahwa cari saja orang lain, jangan buat aku menderita lagi, dan aku tak berharap apa-apa lagi. Tak ingin tau hidup dan perjalananmu seperti apa. Karena terlalu muak.

Senin, 25 Mei 2026

Nyatanya

Ya, nyatanya aku kurang teliti. Kamu bukan covert narsisist, hanya saja sikap avoidant-mu itu mengarah ke covert sehingga dapat ku katakan kamu adalah seorang covert avoidant. Entahlah namun spekulasi ini menerka-nerka ke arah sana. Dibilang narsisist tidak cocok, karena kamu tidak kejam. Hanya saja caramu menarik diri dari tanggjawab dan kedekatan secara emosional sangat mirip dengan seorang avoidant. Sedangkan caramu memanipulasi dan hanya mau merespon pada hal-hal tertentu sangat mirip dengan narsisis.

Pertanyaanku yang dulu seakan terjawab satu persatu. Kamu menyukai dua hal, satu kaktus, dan satu lagi adalah bintang. Real-self-mu adalah kaktus, kamu berduri berbahaya, dingin, namun menjaring air dengan akar yang sangat panjang dan menyebar. Hal ini aku temukan sebagai caramu mencari orang-orang dalam memenuhi validasi egomu. Kamu menyebar umpan secara acak, rendom, lalu ikan atau orang yang memakan umpanmu akan kamu jadikan objek bahkan supply untuk memberi makan egomu.

Namun, saat kamu bertanggungjawab, dan pada akhirnya kamu bisa lari dari itu, kamu mengatakan padaku bahwa kamu merasa bersalah. Aku tau hal itu menghantuimu seumur hidup, dan untuk mengalihkannya kamu bermain-main dengan supply-supply yang sudah kamu rawat. Dan ketika supply-supply baru itu merasa ada yang aneh dan pergi darimu, kamu menyedot (hoovering) lagi. Bila ku ingat kamu mencariku tiap tahunnya, entah itu hanya tes ombak, atau memang kamu benar-benar membutuhkanku. Namun aku akhirnya menemukan pola yang sama selama bertahun-tahun ini.

Semua ini aku analisa satu per satu. Mungkin aku menebak bahwa sikapmu yang dingin dan menganggap bahwa ketika prestasi ada maka akan diberi kasih sayang, bila tidak ada ya tidak dipedulikan merupakah sikap yang diajarkan sedari dini oleh pola asuh. Entahlah, dan kecenderungan atau sedikit sikap narsisis ini timbul sebagai hasil dari pengagungan atas prestasi yang didapat selama ini. Kamu belajar dan mengamati bahwa orang lain mengagungkan kamu karena prestasi dan segala kelebihanmu. Kamu menjadi terbiasa akan segala validasi eksternal itu semenjak kecil sehingga ketika dewasa kamu akan selalu haus untuk diberi validasi oleh lingkunganmu. Saat kamu tak mendapatkannya, kamu akan mencarinya dari supply-supply yang memang benar-benar memberikan validasi untuk egomu yang haus dan lapar.

Aku tau kamu tidak sadar telah melakukan pola ini, namun kamu memahami ini sebagai taktik supaya seseorang yang mengenalmu hanya tau permukaanmu saja sebagai bintang yang bersinar, mereka yang terlalu dekat akan kamu hindari dan kamu beri silent treatment seakan kamu misterius padahal sebetulnya kamu takut mereka akan tau dirimu yang sebenarnya begitu rapuh dan rentan serta tak percaya diri dan sangat takut akan penolakan. Kamu takut mereka memahami bahwa kamu sebenarnya hanyalah kaktus yang daunnya tajam berduri membahayakan orang lain. Maka dari itu supply-mu kebanyakan merupakan orang-orang yang tinggi empati karena merasa kasian padamu, karena kamu menjual cerita menyedihkan seperti kesepian dan diabaikan, walau kamu menggunakannya untuk mengait supply, alih-alih sebagai umpan, hal tersebut merupakan kenyataan bahwa dirimu yang sebenarnya memang benar-benar kesepian walau sudah ada yang menemani. Karena kamu tidak bisa berempati, jadi setiap orang yang bersamamu kamu anggap pelengkap dan objek saja, jadi kehadiran mereka tidak benar-benar berarti karena kamu hanya membutuhkan pujian dan validasi dari mereka saja, dan tidak menerima kehidupan pribadi dan diri mereka sebagai manusia utuh.

Jumat, 22 Mei 2026

Apa yang terjadi jika objek limerence adalah covert narsisist?


Ketika seseorang yang mengalami limerence (obsesi emosional akut) terobsesi pada seorang covert narsisis (narsistik terselubung), kombinasi ini menciptakan salah satu jebakan psikologis paling beracun dan merusak diri sendiri.

Secara psikologis, fenomena ini adalah "badai sempurna" (perfect storm) karena mekanisme pertahanan mental covert narsisis justru menjadi bahan bakar utama yang memperpanjang siklus kecanduan penderita limerence. 

Berikut adalah analisis mendalam mengapa dinamika ini sangat berbahaya dan bagaimana polanya bekerja:


1. Mengapa Mereka Menjadi Pasangan "Ideal" yang Semu?

Kebutuhan Limerence: Penderita limerence hidup dalam fantasi dan sangat membutuhkan validasi, namun mereka justru terpicu oleh ketidakpastian. Rasa tidak aman (insecurity) membuat mereka terus mengejar targetnya.

Umpan Covert Narsisis: Berbeda dengan narsisis biasa yang pamer, covert narsisis menggunakan taktik "korban yang disalahpahami", tampak rapuh, sensitif, dan butuh diselamatkan. Penderita limerence akan melihat ini sebagai peluang emas untuk menjadi "pahlawan" atau penyembuh luka mereka.


2. Siklus "Bahan Bakar" yang Saling Menghancurkan

Dinamika hubungan mereka akan berputar pada siklus intermiten (maju-mundur) yang sangat adiktif:

Fase Love Bombing Terselubung: Di awal, covert narsisis akan membagikan cerita sedih atau rahasia mendalam untuk membuat penderita limerence merasa "terpilih" dan spesial. Hal ini memicu lonjakan dopamin luar biasa pada penderita limerence, yang kemudian langsung mengidealisasikan si narsisis secara berlebihan.

Penolakan Pasif (Breadcrumbing & Hot-Cold): Covert narsisis mengontrol hubungan melalui manipulasi pasif-agresif—seperti mendadak dingin, menarik diri, atau merajuk tanpa alasan jelas. Bagi penderita limerence, ketidakpastian ini adalah bahan bakar utama obsesi. Pikiran intrusif mereka akan bekerja 24/7 untuk menganalisis: "Apa salahku? Bagaimana cara membuat dia tersenyum lagi?"

Proyeksi dan Gaslighting: Saat penderita limerence mengejar kejelasan, covert narsisis akan memutarbalikkan fakta dan membuat penderita limerence merasa bersalah karena "terlalu menuntut" atau "terlalu sensitif". Karena penderita limerence memiliki harga diri yang rendah, mereka akan menelan mentah-mentah rasa bersalah tersebut dan berusaha lebih keras lagi. 


3. Dampak Fatal bagi Penderita Limerence

Kelelahan Mental Kronis: Penderita limerence akan menghabiskan seluruh energi emosionalnya untuk membaca kode-kode tidak jelas dari covert narsisis.

Kehilangan Realitas (Distorsi): Fantasi limerence memblokir bendera merah (red flags). Mereka tetap menganggap si covert narsisis sebagai jiwa yang terluka dan baik hati, meskipun mereka sedang dimanipulasi habis-habisan.

Kecanduan Emosional Ekstrem: Validasi sesekali yang diberikan covert narsisis bertindak seperti hadiah lotre. Penderita limerence menjadi kecanduan pada rasa sakit dan kesenangan sesaat tersebut. 


Kesimpulan

Dinamika ini menyerupai hubungan antara pecandu (limerence) dan pengedar narkoba yang manipulatif (covert narsisis). Covert narsisis mendapatkan pasokan ego (narcissistic supply) berupa pemujaan tanpa batas, sementara penderita limerence mendapatkan penderitaan emosional yang mereka salah artikan sebagai "cinta sejati yang penuh perjuangan". 


Satu-satunya cara untuk selamat dari pusaran ini adalah penderita limerence harus memutus kontak total (No Contact) dan menjalani Terapi Perilaku Kognitif (CBT) untuk memulihkan harga diri serta menyembuhkan luka pengabaian masa lalu yang membuat mereka rentan terhadap pola ini. 

Kamis, 21 Mei 2026

Lucunya masih kutertawakan

Aku tau
Mungkin aku mengalami limerence
Terobsesi akan seseorang yang sedikit atau bahkan full "covert narsisist"

Tak ada yang istimewa sebenarnya
Tak mendapatkan apa-apa
Hanya permainan kata seperti anak-anak

Sama sekali tak ada empati
Hanya sekedar kata-kata simpati tanpa bukti
Beberapa janji memudar begitu saja
Bahkan pesanku untuk mengingatkan sesuatu juga diabaikan

Padahal mengingat semua kata-katanya dengan otomatis
Lalu, membiarkan semua kata-kataku hanya angin
Bisakah kamu menerima itu?
Atau hanya aku yang hanya membesar-besarkan semua ini

Kamu sendiri bagaimana?
Tak ingin dapat apapun dariku?
Hanya sebatas ini keinginan dan niatmu
Yasudahlah
Kita sudah sampai batasnya

Terlalu lelucon aku bagimu
Bahkan semua penderitaan ini kamu tanggapi dengan tertawa
Bagaimana lagi aku mengartikan semua ini?

Dan ketika sesuatu tidak seperti apa maumu
Sama sekali tak ada respon
Haaa? Manusia kamu?

Oke, tak apa
Sejenismu memang apalah
Diberi tempat malah seenaknya sendiri

Lebih baik memang melihatmu dari kejauhan saja
Menyaksikan panggung lain yang kamu kerjakan
Judul drama apa lagi yang akan kamu mainkan

hahaha akan kutertawakan dari sini hahaha

Rabu, 20 Mei 2026

Menyesali dengan Tawa

Aku tidak menyesal kali ini karena aku paham bahwa aku tak berarti apapun untukmu. Setelah aku melangkah pun kamu tak kan merasakan kehilangan apapun, sebab kamu menganggapku sebagai objek atau barang yang bisa digantikan dengan apapun dan oleh siapapun.

Aku tak lagi takut kamu kenapa-kenapa sebab kini kamu telah memiliki siapapun. Tak kekurangan apapun, bahkan kamu mengendalikan banyak hal sekaligus, harusnya egomu telah luber-luber terpenuhi. Pertanyaannya apakah kamu sudah berhati-hati dalam mengoleksi mereka. Aku harap kali ini kamu selamat.

Apakah aku kejam? justru bila memilih terus menemanimu maka aku bukanlah orang baik. Kamu tau ini sangat berisiko, tapi kamu tetap diam. Aku pun semakin yakin bila tak ada niatmu untuk mejagaku dari bahaya. Bahkan membawaku masuk ke dalam kobaran api yang menyala-nyala siap melahap kita kapan saja.

Andai kita sadar lebih awal, kita tak saling menyakiti sedalam ini. Namun tanpa kejadian ini kita pun tak kan sadar satu sama lain bahwa ini harus dihentikan sekarang juga. Kita menolak melakukan hal terbaik, kuputuskan seperti ini saja pada akhirnya.

Tali yang melilitku sudah cukup rapat menekan napasku, sudah lebih susah menghirup udara bersih. Kepalaku sangat keruh oleh asumsi keadaanmu, perasaan tak menentu macam berputar-putar seperti puting beliung ingin menghempaskan apa saja di depannya.

Hei, kamu tak membutuhkanku. Berhenti saling melukai seperti ini adalah jalan terbaik. Suatu saat kita akan sadar bahwa kehidupan ini lebih penting daripada keinginan untuk yang tidak penting. Percayalah bahwa tanpa satu sama lain pun akan baik-baik saja. Dunia berputar seperti biasanya, air mengalir tetap dari hulu ke hilir. Kamu dan aku akan tetap hidup dengan bahagia.

Semuanya setimpal, aku tak menemukannya pada dirimu, dan kamu tak menemukannya pada diriku. Kita hanya salah jalan dan salah orang, selebihnya hanya perlu menilai diri yang bagaimana yang lebih baik untuk kedepannya.

Jalannya berbeda tapi tujuannya sama. Tak harus bergandeng tangan, tak harus saling mengabari, selama hati hidup dengan damai yakin waktu akan berputar dengan adil, tanpa protes seperti aku yang merasa takdir ini begitu bercanda.

Titik Nol

kamu tau titik nol?
aku berada di sana sekarang
memandangmu enggan
meninggalkanmu juga enggan

mengembalikan semua memori itu
yang baik dan buruknya pun impas
kamu terdiam, tak tersenyum atau marah
kamu datar

Bahkan aku merasakan hatimu mati
mengikis hatiku pula
sedikit demi sedikit aku terbawa
dan sulit kembali

satu aku
tak apa bila kamu kehilanganku
aku tahu kamu punya beberapa
dan akan berburu lagi

Tak apa kan bila aku egois sedikit
Awalnya aku ingin dengan perlahan pergi
Namun aku sendiri tak tahan
kamu tak ada

kamu tak benar-benar menghadirkan diri
Ini bukan yang kucari
kesalahan
tak mungkin 

aku tak menyayangkanmu
hanya menyayangkan diriku
begitu gelap menatap orang lain
dan hari lain

aku memang tersayat
tapi setidaknya tidak akan tersayat lagi oleh pisau yang sama
mendatangi sumber sakit ternyata lebih menyakitkan
bahkan ketika lukanya belum sembuh

ini hanya permainan kata-kata
namun terasa menusuk ke dalam dada
dan esok aku melihatmu tertawa lepas melewati hari-harimu yang melelahkan

aku berbisik di samping telingamu
aku tersenyum di balik matamu
sama sekali bukan hal yang penting
karena aku hanya koleksi

kau tak membela diri
kau pun tak menghadang atau melarangku pergi
kamu masih sama seperti yang dulu

aku paham kamu tak kan berubah sampai kapanpun
dan siapapun tak mampu melakukannya
baiknya memang begini
saling melepaskan
saling berpaling 
dan pergi

namun hanya ini yang kudapatkan
walau ada kata berpamitan
kamu sangat tak menghargai waktu itu
ingin segera pergi kan?

dan dalam hati kamu akan mencari orang yang mirip?
lakukan apapun yang kau mau
aku hanya ingin tenang dengan diriku sendiri

aku tau melepaskan akan menghancurkan diriku berkeping-keping
dan kamu tak kan peduli dengan itu bukan?
tapi kali ini aku tak dapat meneteskan air mata
bahkan aku tersenyum atas keberanianku untuk kesekian kalinya mengatakan ini

hal yang sama bertahun-tahun
semoga kamu juga mengikhlaskannya
supaya aku bisa tenang sepenuhnya
tidak tertarik ke medan yang kamu buat sebelumnya

Selasa, 19 Mei 2026

Masih Kotak Kosong

Aku masih melihatmu sebagai teka-teki yang belum terselesaikan
Entah dulu atau sekarang, kamu masih sama saja
Senyummu terpancar tatapan merendahkan yang tersembunyi
Bagaimana kamu melihat kami dan mereka?

Padahal ketulusan sedang meraba tubuhmu yang rentan
Kamu menerjemahkannya sebagai alarm bahaya
Menarik diri begitu logikamu tersentuh oleh rasa
Membuat banyak pertanyaan untuk orang lain
supaya kamu tak ditanya
Bila ditanya pun hanya jawaban singkat
Kamu bukan memendam
malah ingin menyembunyikan

Kamu menganggap semua adalah milikmu selamanya
Bahkan jika suatu saat seseorang marah
Kamu akan menganggapnya sebagai waktu yang tak berpihak padamu saja
Esok saat ia melupa, kamu datang seakan tak pernah melakukan kesalahan

Lalu kamu tersenyum saat mendengarkan tangisan yang kupentaskan
Hei, aku juga pura-pura dalam hatiku berbisik apakah kamu percaya?
Aku juga tak merasa benar-benar tulus
taukah kamu?

Rasa berlapis yang kamu beri sudah mampu aku terjemahkan
entah bila suatu saat aku melupakan kata kuncinya
Menganggap hanya kamu yang mengerti dan memahami
padahal sama sekali tak ada artinya aku di hadapanmu

Kita menganggapnya hanya sebagai transaksi belaka
Kini aku dalam fase jengah, sudah bukan jenuh lagi
setiap benang yang kujahit padamu tak dapat terpasang pada jarumnya
setiap kata seakan tak mendapat perhatianmu
hanya tentang hal itu saja yang membuatmu menanggapi

Kamu mengabaikan setiap hal yang tak berhubungan dengan itu
Kamu terlalu terlihat jelas
Mungkin membuatku pulas
dan semua tulisanku bahkan semua kemarahanku
adalah kebutuhanmu

Ahh.. terlalu gelap, seperti memberi gelas namun diisi air keruh beracun
Aku tahu juga, bahwa kamu tak akan berhenti dan memang tak mampu berhenti

Apakah bagimu ketulusan hanyalah omong kosong
Atau hanya kamu tak ingin kecewa, terluka, dan patah hati
Bukankah kamu terlalu pengecut untuk ini?

Menjadi apapun kamu akan bersinar
Namun hatimu rentan goyah
Senyummu menjadi palsu dan merendahkan
Sedang seumur hidupmu selalu dijunjung tinggi

Kamu sampai kapanpun akan seperti itu
Bagaimanapun orang yang bertamu
Kamu sama sekali tak kan mengubah apapun
hanya orang yang silih berganti menjadi objek pemuas egomu
yang haus akan validasi dan atensi
bahkan kebencian untukmu juga terasa nikmat bukan?

Senin, 18 Mei 2026

Empath

 Saat kamu membaca semua ini, kamu akan merasa aku adalah jiwa yang berbelit-belit dan tak mudah memberi keputusan. Ya, kamu mengenalku. Aku yang berkali-kali berubah pikiran dan berubah haluan. Sesekali menilainya baik, namun sesekali menilainya buruk. Entah lebih banyak mananya kamu nilai sendiri.

Aku tak menyudutkannya, barangkali tulisan ini hiperbola atau dilebih-lebihkan. Jari-jariku hanya mengetik begitu saja. Taukah kamu? Manusia memang begini. Sepersekian detik mempu mengubah arah perjalanannya dan mengubah penilaiannya.

Puaskan membaca ini sebagai pemebelajaran. Buruk baiknya tertulis apa adanya. Walaupun burukku tak kutulis sejelas itu. Mengira bahwa diri ini suci? Salah. Sama saja, dosa dan derita juga sama. Hanya saja aku menyembunyikanku dari tulisanku dan menjadikannya objek terlebih belasan tahun ini masih seperti itu. Padahal pawang kami juga begitu kuat, dan ada saja bagian dari diri kami yang ingin keluar melihat-lihat.

Ya begitulah manusia pada umumnya. Ketahuilah dunia ini hanya tempat salah dan dosa. Siapa saja bisa berdosa, siapa saja bisa bersalah, mau berubah atau begini-begini saja. Semua ada pada jalan masing-masing. Aku dan kamu serta dia tak dapat mengubah satu sama lain. Hanya diri sendiri yang mampu menyelesaikannya.

Kamu tau? Dia masih memegang kendali, terkadang dia datang untuk memastikan apakah serat-serat takterlihat ini masih menggerakkan tubuhku sesuai keinginannya atau tidak. Dia akan terus menyaksikan, mengamati, dan memastikan bahwa jiwaku akan selalu terjerat oleh jaring-jaring halus miliknya.

Ingat, bahwa aku hingga kini masih tertipu oleh kata-katanya, sorot matanya, dan tangannya. Jangan khawatir, kami sudah memainkan peran ini bertahun-tahun dan telah hafal apa saja peraturan mainnya. Kami tak kan terjerumus, kami hanya sedang bercanda tentang dunia yang takdirnya di luar kendali ini.

Kamu, harusnya tidak memainkan ini. Kamu harusnya belajar memastikan setiap gerak-gerik orang yang mencurigakan dan acak seperti dia. Kamu hiduplah lebih baik, belajarlah untuk tidak mendekati orang seperti dia. Kuatlah, supaya tak menjadi bonekanya.

Dan berbahagialan akan cinta yang tenang dan cukup. Bukan bahagia atas cinta yang luber namun timbul dan hilang di waktu yang singkat. Bedakan cinta yang sebenarnya tulus dan hanya ada maunya saja. Kamu harus jeli menapaki seseorang yang mencintaimu. Bila ia terus memeberikan cinta yang luar biasa hebat dan banyak namun juga memberi sekaligus rasa sakit dan luka yang banyak pula maka ia bukanlah orang yang tepat berada di hidupmu.

Ingatlah, aku sudah mengingatkanmu. Aku harap kamu mendengar dan melakukannya. Bukan hanya sekedar dibaca dan mengetahuinya saja. Atasi masalahmu dengan berani dan tangguh. Temui temanmu yang mampu menguatkanmu tanpa dia. Yakinlah hatimu akan sembuh seiring waktu yang berjalan walau tidak singkat namun melambat.

Menarilah bila kamu ingin menari, ambil kain itu dan mulailah mengayunkannya. Biarkan ia terhempas angin dan berputar seakan membuang semua rasa dan luka darinya. Bernyanyilah seakan kamu memakinya, serta menendanglah bila kamu sudah muak dengan semua ini. Bayangannya yang samar dan kabur, hantam saja lah. Pedang yang tajam yang sudah kamu asah jangan pernah kamu sia-siakan. Belah tubuhnya menjadi berkeping-keping dalam imajimu. Dan nyatanya ia hanyalah mayat hidup tanpa perasaan yang kamu asuh bertahun-tahun. Membunuh nyawamu, meninggalkan dirimu yang juga mayat tak berwajah.

Sudahlah, menyandarlah pada bahuku. Urailah emosimu menjadi healing terbaikmu. Aku akan ada di sini memelukmu erat. Membisikkan kata-kata hidup pada jiwamu yang telah mati. Cintai kehidupanmu setelah ini dengan lebih baik. Aku yakin, nyanyian dan tarianmu sudah cukup mewakili kekecewaanmu. Biarkan ia terbang melepas belenggu jiwanya. Pergi atau pun tidak, ia tak kan peduli. Karena sejatinya hatinya telah mati rasa, matanya sudah buram serta tanggannya sudah lama tak berada pada raga aslinya. Dia hanya boneka atas dirinya sendiri. Dia diperbudak oleh mati rasanya sendiri. Memberikan rasa yang dia sendiri tak mengerti untuk apa. Ketahuilan bertahun-tahun mengenalnya bukan sebuah kebaikan yang harus diingat seumur hidup melainkan ujian yang hanya dibaca lalu terlupa begitu saja.

Waktu ini masih panjang, ingatlah dia hanya simbol ilusi dan mimpi semu. Yakinkan dirimu bahwa ia hanya menampilkan bayangannya. Sedang dirinya sendiri sedang bersembunyi dalam kegelapan.

Hanya Koma

Dan terjadi lagi
Aku masuk jebakan
Mengira tulus
nyatanya akal bulus

Salah jika berharap berubah
manusia akan tetap sama saja pada akhirnya

baik, kamu memang baik
kata hanya sekedar kata
hanya satu yang tertuju
kamu tak pantas
menyaksikan pentas

Menahun dan terbiasa
pahit pun tak muntah
Pola ini indah
Warna hitam dan merah muda
menyembur menutupi aslinya

Kamu tak tahu
apa warnaku
Hanya peduli warnamu
topengmu
menjaga rahasia

Celah tak ternoda
Gerbang tertutup rapat
Tak seorang pun boleh
Masuk dalam sejatimu

Terdistraksi nyanyianku
hanya kepuasan bagi egomu
cinta dan benci tak berbekas
lenyap di dalam angin

Aku belum puas
melihat kehancuranmu
Namun aku juga belum ingin melepasmu
Inilah racun dan penawar sekaligus

Kau menari bebas
melihatmu dalam setiap gerak cahaya
Mataku mulai samar melihat kenyataan
padahal kamu hanya memberi ilusi dan mimpi

Selasa, 12 Mei 2026

yang Sekara(ng/t)

Ya, aku tahu lagi sekarang.

Seperti kata kitab, Rab mengubah dan membolak-balikkan hati manusia sepersekian detik begitu saja. Seperti pemikiranku tentangmu berubah-ubah, bergejolak tiba-tiba, dan menghilang begitu saja setelahnya.

Manusia memang, normal memiliki banyak sisi. Bisa saja hari ini kita begitu baik, besok belum tentu. Asalkan tetap pada lingkaran aman dan tidak keluar batas. Marah, menangis, dan kecewa adalah lumrah rasa kehidupan.

Senang sesaat, bahagia adalah wujud dari perjuangan, perih, dan penuh peluh. Semua itu didapat bersama waktu yang kadang terpotong di memori kita. Siapa yang benar-benar ada mengisi hari-hari tanpa banyak bertanya dan protes, siapa yang memeperjuangkan hidup kita tanpa banyak meminta timbal balik.

Ya, mungkin otak logic sedang bekerja sekarang. Melupakan emosi sesaat yang hadir bersama kegelapan. Aku mengingat itu kembali sebagai hal yang berkali-kali salah. Namun satu waktu hal itu sama sekali bukan kesalahan. Uniknya alam bawah sadarku berkali-kali mengingatkan dengan berwujud orang-orang yang benar-benar aku dengarkan dalam hidup ini. Secanggih itu Rab menciptakan dan mendesain manusia.

Dan mimpi-mimpi itu saat dirangkai menjadi satu, selalu ada benang merah yang dapat ditarik, semua memiliki jalan ceritanya sendiri. Bukankah dari sini kamu tau bahwa aku sangat Freud-ian.

Kamu tahu, saat aku berusaha menekan gejolak energi, mengakuinya lalu melepaskannya, alam bawah sadarku memproyeksikan orca yang berenang tenang di kedalaman sebagai gambaran yin dan yang yang seimbang dan tenang.

Namun saat mulai melebihi batas, orca tak pernah kembali. Lautan yang indah tak lagi menemani tidurku, hanya manusia-manusia yang mencoba menyadarkanku terus datang menasehati, memarahi, bahkan menghakimi serta memberi karma.

Sekuat ini alam bawah sadar yang kadang disepelekan. Namun aku tak sepenuhnya menyalahkanmu lagi, kamu tak sejahat itu menorehkan luka. Kamu hanya perantara supaya aku lebih mengenal dan menemukan jati diriku. Hingga hari ini aku mulai menemukan sedikit demi sedikit kepingan-kepingan inti jiwaku yang sempat hilang beberapa tahun ini.

Aku mulai menyusun diriku satu per satu, mencari siapa diriku dan apa saja yang aku inginkan. Kamu tak lagi ingin aku matikan,namun selalu ingin kubiarkan saja terpajang di sana dengan nyaman. Kamu tau, kamu pun mementingkan dirimu sendiri. Sama sekali tak memberikan hatimu, hanya menjadi apa yang orang lain inginkan dan tidak pernah bernar-benar menjadi diri sendiri di hadapan orang lain. Apakah aku berlagak sok mengenalmu sekarang? Bahkan dari dulu inilah yang menyebabkanmu membuangku.

Cerita akan terus bergulir, mungkin kemarin kamu antagonis, bisa jadi sekarang kamu adalah protagonis bahkan keduanya sekaligus. Aku pun tak mengatakan diriku benar, aku memahami bahwa kita sama saja. Tak ada yang lebih buruk di antara kita, karena kita sama buruknya.

Bahkan aku tau hal ini, mungkin kamu pun juga merasakannya. Dan kita memahami bahwa kita terhubung dalam diam. Terlalu kuat telepati hingga sebaiknya saling berhenti berpura-pura adalah hal terbaik.

Seseorang tak mungkin selalu berada dalam mode hati-hati dan waspada setiap saat. Apalagi seperti kita yang sedikit-sedikit bosan. Akhirnya kita menemukan arah yang berbeda. Entah suatu saat arah kita bisa sama lagi, atau bahkan saling menjauh dan sama sekali tak pernah bertemu.

Semua adalah takdir. Takdir bisa mempermainkan sejauh ini adalah sama sekali bukan kuasa kita. Namun cara kita saling menarik dan menjauh tanpa perlu mengatakan apapun adalah teknik yang tidak mudah bukan? Mungkin karena kita terlalu hafal pola dan aturan mainnya. Sifat dan watak yang kita temukan di diri masing-masing tetap sama seperti yang dulu. Frekuensi yang tidak jauh berbeda ini akan memahami satu sama lain dalam makna yang berbeda.

Entah cerita ini akan selesai sampai kapan, yang kutahu kita memilikinya selamanya. Karena tidak ada kata berakhir. (hanya ada kata bersambung)

Sabtu, 09 Mei 2026

Kini

Tak lagi
Bukan memiliki
Hanya hiasan
Bukan ikatan
Namun membelenggu erat
Bukan kata-kata
Telepati terasa

Langit kita sama
Tanah ini juga
Melewati jalan
yang tak berbeda
Namun mata tak melihat
Sehari terasa menahun
Hujan menghapusnya
Rintih sementara
Senyum selamanya

Kamu hidup gerak cepat
Sedang aku melambat
Kamu terus memanjat
Aku selalu terjatuh
semakin dalam
Inilah beda

Jarak hanya ukuran
Roda terus membawa
Menjauh tapi dekat
Fana fatamorgana
Menggilas rasa
yang tak kan menyata

Sabtu, 14 Maret 2026

Sadari

Kamu terlihat baik-baik saja
Syukurlah kamu tak sehancur diriku
Baiknya memang begitu
Kamu sama sekali tak pernah merasa menyakiti
Malah kamu merasa tersakiti
Sungguh lucu dualisme pandangan ini

Sama-sama api yang membara
Tak ada air
Bukan malah padam
Malah semakin berkobar
Menjalar kepada mereka yang terdekat

Sudahkah kamu menyadari
Siapa yang memulai permainan ini
Sudahkah kamu membuka mata
Siapa yang sebenarnya memanipulasi
Atau di sudut padang orang ketiga
kita memang sama-sama penjahat? 

Yasudahlah, jembatan sudah terputus
Tak kan ada jalan menuju kita berdua
Walau jarak begitu dekat
Kita akan sama-sama menghilang bersama waktu yang berlalu

Ingatkan aku bahwa tak satupun tawa ada karenamu
Dan kuingatkan kamu bahwa aku adalah penyesalan terbesarmu

Senin, 02 Maret 2026

Akhirnya

Terlalu banyak kata tentangmu
Membuatku jengah
Sudah puas aku menebasmu dalam pikiranku
Puas melihat darahmu dalam fantasiku

Terlalu lama berlari-lari
Tak kunjung temukan makna diri yang kucari
Kini aku kembali saja pada jati diriku
Daripada semakin tak mampu memegang kendali

Lebih baik menjadi apa adanya
Menjadi seperti layaknya orang pada umumnya
Bukan orang istimewa
Bukan pula orang terpandang
Menjadi biasa saja tapi hidup tenang

Inilah yang akhirnya membuatku berbalik arah
Yang kuinginkan dari dulu hanyalah hidup damai
Tanpa caci, tanpa sanjung puji, tanpa padangan mengkritisi
Hanya hidup untuk keluarga dan melihat mereka hidup bahagia

Hidup yang benar-benar bermakna
Tak apa kehilangan dunia
Tak apa kehilangan tahta
Tak apa karena sejatinya tidak pernah memilikinya juga

Ah.. Biar dikata orang pemalas
Biar dikata pengangguran
Biar dikata sarjana tak dapat kerja
Aku sudah berdamai dengan atribut itu
Aku hanya ingin anakku bahagia
Keluargaku tenang karena aku selalu ada untuk mereka

Terima kasih kamu sudah mengantarkanku lebih dekat dengan keluargaku, hal yang benar-benar paling aku lindungi dan aku cintai

Sabtu, 28 Februari 2026

Menunggu mati

Lama-lama aku akan mati dilahap oleh pemikiranku sendiri
Luka yang menggerogoti dari dalam
Membusuk membangkai di tubuh yang hidup
Jiwanya mati
Untung saja masih ada inti kehidupan yang menopangnya untuk kembali berdiri

Aku menyadari seringnya aku menatap kosong ke depan
Aku tak melihat apa-apa
Aku hanya melihat diriku terpisah tertusuk menjadi berkeping-keping
Tak ada yang mampu menyatukannya
Aku pun rasanya tak ingin lagi menyatukannya

Aku seperti dimutilasi oleh diriku sendiri
Pelakunya adalah aku
Bukan siapapun
Aku yang menjebak diriku dalam permainan ini
Aku selamanya kalah oleh nafsuku sendiri
Menginginkan untuk pergi tapi tiada arti
Bertahan pun hanya menyakiri diri sendiri
Kedua hal yang tidak dapat dipilih

Suatu saat aku akan mengerti bahwa ini semua terlalu menyakitkan
Bukan jalan keluar yang benar
Suatu saat aku akan mengerti bahwa luka ini abadi
Hanya dapat diterima oleh diri
Suatu saat aku akan memahami bahwa tidak akan sia-sia penantianku akan mati itu sendiri

Burnout

Entah sampai kapan kesadaran ini bisa bertahan
Candu emosi dan intimasi yang mengontaminasi kepalaku
Mungkin raga ini baik-baik saja
Namun jiwa ini bergolak seakan-akan berada di tepi warna hitam yang hanya kurang selangkah saja menempati area itu

Setiap hari berpura-pura baik-baik saja
Berpura-pura tersenyum dan tertawa
Berpura-pura tak ada yang salah
Tak apa, akan kujalani
Dan kita lihat berapa lama tubuh ini akan menahan beban terpendam yang begitu dalam
Yang menahun bahkan setiap hari seperti menguliti tubuhku sedikit demi sedikit
Kehilangan harga diri dan kepercayaan diri
Memutuskan rantai pasokan hormon bahagia yang signifikan

Akan kujalani
Akan kucoba bertahan sampai kapan
Allah akan memberikanku kekuatan
Allah akan berikan obat di luar dugaan
Mungkin suatu saat aku akan rutin meminum antidepresan
Kita tunggu saja
Kapan waktu itu akan datang

Aku bertanya pada diriku sendiri
Mengapa aku tak mampu membawa diriku ke arah positif
Tiap waktu aku selalu berjalan menuju arah negatif
Menurunkan kerja otak dan imun tubuhku
Apa yang terjadi? 
Apa ini? 
Suara-suara yang mendorongku untuk mati
Suara dalam kepala yang mengatakan bahwa tidak ada gunanya semua ini
Melemahkan kerja produktifku
Melemahkanku untuk bergerak
Membuatku berputar sendiri dalam kepalaku
Ingin memecahkan saja isinya
Atau bagaimana bila semua yang kusebut hidup ini akan berakhir
Seseorang tidak bisa menolongku
Seseorang begitu tidak memahamiku
Seseorang tidak mungkin bisa menyukai apa yang kusukai
Seseorang tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintainya
Seseorang hanya mencintai dirinya sendiri

Luka

Apa kau terluka sepertiku?
Apa kau tersayat sedalam ini? 
Atau hanya aku yang merasakannya
Atau kita berdua sama-sama dirantai dalam jarak? 
Masih belum bisa kupahamkan diriku tentang mana cinta yang sesungguhnya
Berbagai definisi memenuhi kepalaku
Seakan aku tak henti mencari apa arti dan makna kita berdua

Aku telah menari di kepalamu bukan? 
Lalu kamu berpura tak mengingatnya
Lalu kamu pergi meninggalkan tali yang menjerat leherku seakan tak ingin melepaskanku
Aku tau kebodohan ini adalah naluriah
Aku tau kecerdasanmu mampu memberi batasan
Dan kamu tertawa melihatku terpuruk dan patah sedalam-dalamnya

Aku yakin kamu tak dapat merasakkannya
Dualisme empati dalam diri membagi kepalaku menjadi dua dunia
Dunia yang nyata membuatku terpaksa melakukan tanggungjawab
Dunia fana membuatku terlena akan ilusi kenikmatan sesaat
Apa kamu pernah berpikir bagaimana keadaanku sekarang, setelah kamu datang dan menghancurkan lagi memori indah yang telah ku ciptakan
Apa kau merasa tidak begitu kejam

Menghianati dirimu berkali-kali lebih hebat dari apapun
Semua tentang kita yang palsu dan hanya manipulasi dari rencana emasmu
Aku tetap menangisi betapa tak taunya aku bahwa telah dikontrol olehmu
Tanpa belas kasihan
Kamu menjadi pengawas paling detil
Tertawa saat seseorang terluka dan tidak mendapat kebahagiaan itu

Kamu terlalu kejam untuk dikatakan baik dan ramah
Kamu pelaku yang tiba-tiba menghilang dari tempat kejadian
Kamu pencuri yang tak pernah mengaku
Kamu pengkhianat pendusta pendosa
Mengikat orang lain supaya berkhianat, supaya ikut berdusta dan berdosa
Kamu jauh dari jati dirimu yang kosong
Kamu lebih kesepian dari siapapun
Kamu adalah tawa hampa tanpa makna
Ada jiwanya tapi tak miliki hati
Ada tubuhnya tapi indranya mati
Kamu memberikan luka yang teramat dalam

Jumat, 27 Februari 2026

Darah Narsisis

Telah memudar sedikit demi sedikit

Aku yakin darah yang mengalir karena tebasan pedang emosional itu lama-lama akan mengering

Hanya menunggu waktu untuk membuat bekas yang unik di tubuh aslinya

Kamu yakin kamu menang? 

Sedangkan kamu kehilangan banyak hal di dunia ini


Kamis, 26 Februari 2026

Selangkah demi selangkah berjarak darimu

Masih memimpikanmu, di dalam ruangan putih, kita duduk beralaskan kain bercorak bunga. Dari sela keramik muncul banyak hewan menggeliat merah kecil seperti benang. Seakan menyimbolkan kenangan manis yang telah membusuk dan tiba saatnya untuk terurai oleh waktu. 

Aku tau, perjalanan untuk pergi darimu tidaklah mudah. Lahan yang kamu sewa tanpa imbalan di otakku ini, masih terikat kontrak, mungkin baru beberapa bulan lagi masanya habis. Tidak masalah bagiku. 

Akan kunikmati, setiap langkah menjauh darimu. Akan kunikmati setiap potongan rekaman menyakitkan itu terulang-ulang di kepalaku. Suatu kenangan yang tak bermakna bagimu.

Aku melihatmu. Mungkin kamu telah melakukan banyak hal, tapi aku tau bahwa kamu hanya ingin diakui oleh dunia luar. Kamu tidak benar-benar bisa menemukan jati dirimu. Kamu kehilangan esensi murni dari dalam hatimu, yang kita semua punya, dan kita sebut 'empati', kamu tidak memilikinya. 

Rabu, 25 Februari 2026

Kata-kata darimu yang mengendap menjadi erosi di benakku

Saat kamu berhadapan dengan masalah dan menyeretku ke dalam masalah itu, kamu berkata, "Ingin tenang bersamamu."

Saat aku mencarimu dan menemukanmu, lalu kamu berlalu begitu saja, seakan tak perduli. Kemudian aku pergi, kamu mengatakan, "Lho, kok pergi?"

Saat setiap kali hari penting di hidupmu aku selalu datang, namun tak sekalipun kamu datang di hari pentingku. Lalu saat kita telah jauh, kemudian kamu berangkat ke luar negri kamu berkata, "Aku pamit dulu, mau dibawain oleh-oleh apa?"

Saat bertahun-tahun kita tidak bertemu, kemudian kita memutuskan untuk bertemu kamu mengatakan, "Ya mau ketemu kapan, mau dibawain apa?"

Saat aku bertanya kamu sebenarnya adalah kotak kosong atau kotak yang rumit, kamu hanya diam. 

Saat kamu tiba-tiba pergi dari seseorang kemudian pergi ke orang lainnya kamu berkata bahwa orang sebelumnya adalah "orang yang tak tergantikan".

Saat kamu sudah dekat dan merasa orang tersebut sudah pada levelnya kamu berkata, "tidak sesuai ekspektasi".

Saat kamu ditanya kita ini apa? Lalu kamu menjawab, "Hanya teman".

Kamu mengangkat setinggi-tingginya dan menjatuhkan sekeras-kerasnya. Kamu memberikan keesakitan dan mengobatinya. Kamu memberikan racun dan memberikan penawarnya. Kamu memberikan pertolonganmu sambil menertawakan kesulitanku. Kamu meletakkan dirimu di atas segalanya. 

Saat ditanya apa makna seseorang yang kamu kenal bagimu, "Semua orang istimewa dengan uniknya sendiri-sendiri".

Saat seseorang berada jauh darimu, kamu tidak mendekat, tapi mengatakan, "Mendekatlah!"

Kamu meletakkan ekspektasi yang tinggi, menggunakan kata-kata yang bermakna luas yang membuat orang bertanya-tanya apa maksudnya. 

Saat kamu kehilangan sesuatu pada orang lain kamu menjawab, "Kasian kalau tidak ditolong".

Kamu meletakkan dirimu adalah penolong pemilik empati sekaligus menjadi senjata untuk membuat orang lain peduli padamu. 

Kamu selalu berkats dengan halus penuh tipu daya dan manipulatif. Menghubungi hanya bila perlu sesuatu saja. Hanya hubungan asas kebutuhan dan manfaat saja. 

Kamu akan berakata bahwa, "Seseorang memberikan apa yang kamu butuhkan, namun bukan apa yang kamu inginkan".

Jadi seperti apa orang yang kamu inginkan? Sesempurna apa kamu hingga menginginkan orang yang sempurna juga. Sesempurna apa pula orang yang ada dalam pikiranmu? Kamu terlalu naif menerima kekurangan seseorang. Hanya ingin kelebihannya saja. Saat kelebihannya tak berguna lagi lalu kamu membuangnya begitu saja. Tak memperdulikannya dan mencari lagi yang dapat kamu habiskan kelebihannya. Orang yang baru ini menurutmu akan memberikan manfaat yang lebih besar. Namun kamu lupa bahwa setiap orang miliki kekurangan, dan kamu tak dapat sesuatu yang dimiliki orang sebelumnya pada orang yang baru ini, lalu kamu menyedot kembali orang yang sebelumnya untuk memenuhi kehausan egomu. 

Hidupmu akan terus berjalan seperti itu. Siklus yang sama setiap waktu dengan melibatkan banyak orang-orang baik dalam permainan emosi dan egomu. Mereka terjebak, mengalami trauma bonding secara terus menerus. Tanpa kamu peduli, tanpa empati, kamu meninggalkannya begitu saja karena tak cukup baik bagimu, dan kamu sudah menyewa lahan gratis di otak mereka. Mereka akan terus terbayang olehmu seperti memori yang tak dapat dihapus. Butuh obat khusus untuk menghapus wajah yang selalu kamu pasang topeng itu. Topeng yang tertawa namun wajah aslinya menangis. Topeng yang berani, namun wajah aslinya ketakutan. Topeng yang rupawan, namun wajah aslinya memuakkan. Ingin kulihat wajahmu yang sesungguhnya. Serapuh apa dirimu, hingga ingin menyeret orang-orang yang bahagia menjadi pemurung dan penyendiri. Sesakit apa hidupmu hingga ingin orang-orang yang sehat akalnya menjadi rusak karena manipulasimu. Dan akhirnya aku sadari, memang isi kepala kita berbeda. Kamu full menggunakan logika, tanpa perasaan. Kamu menggunakan kecerdasan penuh untuk merencanakan manipulasi emosi untuk memenuhi egomu yang tak akan pernah puas. Kamu telah membohongi dirimu sendiri. Kamu berada pada tepi tebing namun kamu bertahan sangat hati-hati. Mencoba selalu menyakiti sebelum disakiti. Sungguh ironi hidupmu ini. Dan ingin sekali aku menertawakannya. Namun aku manusia biasa, justru sangat kasihan melihat satu anak manusia tidak punya hati dan tidak berperasaan. Sampai kapan berdiri di atas tebing seperti itu, tidak takut jatuh? Atau mari kita tunggu saja, kapan kamu akan jatuh? Dimana waktu yang sangat aku nantikan. 

Kamis, 19 Februari 2026

Permainanmu : covert narsisis

Aku tahu, ini bukan cinta, juga bukan kasih sayang. Hanya menyukai citra sempurna, walau ada sedikit iba. Kamu sempurna di mataku sekaligus menyedihkan. Kamu membuat orang-orang mengagumimu, namun tidak semua orang mampu mendengarkan jerit permintaan tolong darimu. 

Aku mendengarnya dan bahkan kamu mengakuinya. Kamu pernah berkata seperti menjadi burung yang berkicau di tengah-tengah keramaian. Tak ada yang mendengarmu dan tak ada yang peduli denganmu. Namun bayangkan! Aku mampu mendengarkan kicauanmu, aku mampu melihat warna sayapmu, dan aku mampu mengobati lukamu. Dan lambat-laun kusadari bahwa bukan hanya aku yang terjebak di dalam kondisi yang sudah kamu rancang ini. 

Aku pun menyadari kenapa tak ada yang mendengarkanmu. Karena kamu berbeda. Kamu tercipta tak sama. Kamu terlalu abu-abu untuk orang-orang yang hitam atau putih. Kamu sudah terlalu lama terluka karena emosi sejatimu terabaikan.

Aku tahu, selama ini keinginanmu tak didengar, temanmu sedikit, kau terpenjara di ekspektasi tinggi seseorang. Kamu menjadi aspek yang ditinggikan sampai kemauanmu sendiri terabaikan. Dan sampai sekarang kamu tidak tahu apa yang benar-benar membuatmu bahagia. Kamu merasa kurang atas apa yang kamu dapatkan. Kamu merasa tak pernah cukup mendapat cinta dari seseorang. Karena selama ini kamu tak tahu apa dan bagaimana cinta kasih yang sesungguhnya tulus. Walaupun bagi seseorang itu, selama ini kamu telah bergelimang kasih-sayang. Padahal kamu menganggap itu adalah jeratan dan penjara yang bersembunyi di balik kata perlindungan. Kamu tak pernah berontak, kamu hanya penurut, kamu hanya ingin terlepas pelan-pelan, dan akhirnya kamu kini berhasil. Kamu bebas! 

Sayangnya, keberhasilanmu untuk bebas bukanlah akhir dari perjuanganmu. Kamu masih ingin menjadi liar dengan diam-diam. Kamu belum cukup bahagia hanya dengan melepas belenggu rantai emosi sejatimu. Kamu menjadi rakus dan serakah akan kuasa untuk mengendalikan perasaan mereka. Kamu haus akan pengakuan mereka. Kamu butuh didambakan oleh mereka, dan kamu sama sekali tak mampu melepas mereka, serta tak mampu pergi darinya. Kamu menata perasaan mereka bak buku di rak-rak dengan waktu dan keadaan yang kau inginkan. Jika kamu membutuhkan keuntungan materi, kamu akan membuka buku perasaan yang paling atas, dan jika kamu menginginkan keuntungan emosi maka kamu membuka buku perasaan di rak paling bawah. Aku malah melihat kamu bak pengamen, mendatangi rumah-rumah, bila tak diberi uang kamu pergi, bila diberi uang kamu berhenti sejenak dan mengingat rumah itu untuk datang lagi di kemudian hari. Kamu memberi jarak dan menggambarkan citra diri yang misterius. 

Kamu berbeda. Kamu tidak memiliki rasa bersalah sesaat setelah meninggalkan begitu lama kemudian tiba-tiba datang. Kamu juga tanpa rasa sungkan tiba-tiba pergi begitu saja sesaat setelah memberikan kata-kata manis yang disebut love-bombing dari satu rak ke rak yang lain, dari satu buku perasaan ke buku perasaan lain. Kamu memilih untuk memaikai buku yang mana untuk disedot energi dan validasinya sesuai kebutuhanmu. Kamu hanya berpura-pura empati dan menjual kesedihan untuk menjerat mangsamu, membiarkan buku-buku baru terjebak dan terjerat di antara tumpukan rakmu yang penat dan sesak. Terkadang kamu akan mencoba-coba untuk mencari buku baru pengisi rakmu yang kosong.

Hei sebenarnya, kamu kesepian dan rapuh dibanding siapapun! Kamu hanya senang dipuji, didambakan, diidamkan dan sangat haus serta lapar akan pengakuan. Kamu tak mau melepaskan satu pun hal yang sudah terpajang di rak bukumu. Padahal buku-buku itu hanya menunggu untuk kamu baca, namun tak satupun kamu membacanya. Kamu hanya mengambil buku acak kemudian menggunakannya sebagai ganjal kursi, sebagai alas piring makan, sebagai alas coret-coretK. Kamu tidak benar-benar mengenal mereka secara mendalam. Kamu takut terikat secara emosional dengan mereka para empath. Kamu memanfaatkan rasa iba untuk membawa mereka dalam arena permainan tarik-ulur dan jungkat-jungkit emosi & teka-teki perasaanmu. Membuat mereka bertanya-tanya kamu kenapa? Setelah berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun menghilang tanpa berpamintan, tiba-tiba hadir tanpa permisi mengacak-acak emosi seseorang. Mereka yang sadar bahwa awalnya sebelum kehadiranmu dirinya baik-baik saja, namun setelah kehadiranmu, mereka merasa dirinya tidak baik-baik saja akibat permainan ego-mu. Ada yang sampai gila, kehilangan jati diri, ada juga yang diam dan bertanya-tanya. Sebenarnya kamu kenapa? Kamu itu apa? Kamu kotak kosong atau kotak yang di dalamnya berisi benang yang ruwet dan sudah tak dapat diuraikan lagi? 

Semakin mengenalmu dan memahamimu, kini aku mampu menjawab dan menemukan siapa dirimu sebenarnya. Kamu berbeda dari manusia kebanyakan. Kamu mengalami penyimpangan baik di otak secara berpikir maupun di perilakumu. Kamu membutuhkan bahan bakar untuk mengisi tangki ego yang tak pernah penuh dalam benakmu. Kamu membutuhkan banyak orang normal untuk menjadi pengikut yang setia dan selalu melihatmu seperti orang yang sempurna. Kesempurnaan yang kamu tampilkan di permukaan adalah ibarat sebuah kotak yang indah dengan warnanya yang mencolok dan bentuk yang unik, siapapun melihatmu ingin memilikimu. Sedangkan kamu seakan menjanjikan kepemilikan kepada setiap orang yang menginginkanmu. Kamu tidak benar-benar memilih satu untuk memilikimu. Kamu memberi janji manis bahwa suatu saat satu persatu dari mereka bisa kok memilikimu. Ah ternyata kamu sangat murahan! 

Dan segala upaya yang kamu lakukan itu tidak lain halnya karena kamu hanya sebuah kotak kosong! Kamu kesepian, sendirian, terabaikan, tak dipedulikan, tak ada yang benar-benar paham di mana letak hatimu berada. Sehingga kamu takut disakiti, takut tak dicintai sepenuh hati, takut perasaanmu tak sepadan, takut cintamu bertepuk sebelah tangan. Jadi, sebelum kamu tersakiti, kamu menyakiti terlebih dulu. Sebelum kamu ditinggalkan, kamu meninggalkan terlebih dulu. Sebelum kamu menangis, kamu buat seseorang menangis terlebih dulu. Dan setelah kamu berhasil membuat seseorang menangis dan merasakan kehilangan lebih dari yang kamu rasakan, bahkan lebih parah darimu, kamu pun tertawa, kamu tersenyum, kamu bangga, dan kamu bahagia mengetahui bahwa seseorang telah benar-benar tak bisa hidup tanpamu. Kamu sendiri lebih gila daripada korbanmu! 

Kamulah racun yang seolah-olah membawakan obat penawarnya di saat itu juga. Seakan kamu mendorong buku itu sampai jatuh, dan menangkapnya sebelum menyentuh lantai. Kamu memberikan trauma bonding yang melekat, adiktif, dan membuat sakau bila kamu menghilang. Kamu memanfaatkan perasaan yang tulus mencintaimu hanya untuk melihat apakah mereka terjebak atau tidak. Bila mereka telah terjebak, kamu akan menarik ulur hatinya, memainkan perasaannya, tidak memperdulikan tangisan bahkan rintihannya. Kamu merasa menang akan kuasa mengendalikan perasaan seseorang. Kamu berteriak hore di atas derita seseorang yang telah terluka karena jungkat jungkit emosi yang kamu mainkan. Kamu hanya memberi kata-kata manis tanpa pembuktian, kamu menceritakan kesamaan yang memang telah kamu rencanakan untuk mendapatkan empati dan harapan kesetiaan. Kamu memutar perasaan di ujung tebing dan mendorong seseorang untuk terjun tanpa syarat dengan pertanyaan, "Kenapa kamu menjatuhkanku?" Lalu tanpa rasa bersalah telah menjatuhkan, dan sambil menangkap tubuh itu dari bawah kamu menjawab, "Untuk menyelamatkanmu!" Inilah kondisi yang kamu inginkan, berlaga baik untuk diterima namun menunggunakan cara yang salah. 

Luar biasa drama dan sandiwara yang kamu mainkan. Seolah kamu menguasai dan mengendalikan permainan. Luar biasa!!! Menyalahgunakan kejeniusan otakmu hanya untuk membuat permainan sakit hati yang bertubi-tubi saling menghancurkan ini. Mereka hancur berkeping-keping karena trauma bonding dan kamu hancur karena lama-kelamaan hatimu mati sehingga tak kan ada seorangpun suatu saat nanti yang bisa menerimamu apa adanya dan tiada yang bisa menemani dengan tulus di seumur hidupmu. Kamu hidup dalam kepalsuan, ketakutan, dan ketidakpercayaan. Kamu memberi banyak tes untuk orang yang ada di dekatmu, memastikan mereka masih mampu kamu kendalikan. Kamu menciptakan ruang dimana hanya kamu yang bisa mengendalikannya. Ada tombol ego, emosi, dan pengabaian. Kamu akan hidup di dalam bayangan sempurna yang kamu ciptakan sendiri. Dan sampai kamu mati dan semua ini berakhir, baru kamu sadar bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini seperti yang kamu gambarkan dalam permainanmu. 

Rabu, 18 Februari 2026

Mengubur Jati Diri

Semua sudah berlalu. Ternyata aku tetap kosong dengan dalih karena telah pergi. Nyatanya aku sendiri masih kehilangan jati diri. Yang kuinginkan yang kumau bukan ini dalam hati. Namun sudah kucoba menerima dan melakukan apa yang seharusnya kukerjakan. 

Tidak akan kutanyakan mengapa. Masih ada ruang kosong dalam dada yang menyakitkan bila kurasakan dengan benar. Ruang ini membelenggu dan mengikat tubuh, menarik anggota tubuh yang lain untuk turut merasakan kepenatannya. Penat? Bukankah dia kosong? Kenapa bisa menjadi terasa penat? 

Ini bukan tentang covert. Biarkan dia dengan masalahnya sendiri yang sama sekali tak ingin aku terseret juga ke dalam kerumitan hidupnya. Aku hanya aku sekarang. Perasaan yang mengikis diri yang otentik ini lama-lama terasa sesak. Berteriak pada siapa? Akan meminta bantuan pada siapa? Semua terlihat menutup telinga. Apa aku juga salah satu covert yang haus pengakuan? 

Tidak, aku bukan covert. Aku hanya kehilangan diriku sejenak. Cinta yang stabil, kehidupan yang harmonis inilah yang kubutuhkan. Namun terasa hambar, membakar semua harapan, melupakan segala ambisi dan asa yang dulu pernah aku bangun. 

Aku sudah melupakan segala pertentangan itu, kukuatkan hati untuk menuju jalan yang menurutku baik untuk hidupku. Tapi diriku masih meronta ingin dipuaskan egonya untuk diaktualisasi. Bagaimana bila kubunuh saja diriku yang kehausan ini? Kubuang jauh-jauh dan tak kan melihatnya kembali? 

Ibarat salah satu bagian otak yang masih berfungsi dibuang begitu saja. Setelah meredupkannya, memendamnya, dan menidurkannya aku yakin suatu saat diriku yang itu akan bangun dan bangkit suatu saat nanti. Dan di saat itu umur telah menua, kesempatan semakin sempit walau tidak ada yang terlambat. Ingin saja satu hal baik dalam diri ini bisa berkembang mungkin tak sepenuhnya kehilangan diriku sendiri. 

Jangan menyalahkan siapapun. Hidup ini aku sendiri yang pilih, aku harus terlihat baik-baik saja dan bahagia. Harus melangkah walau hanya mundur, harus tetap tersenyum walau hatiku perlahan mati, tetap memberikan yang terbaik untuk orang lain walau racun dalam diri terus menyebar. Tangisku hanya aku yang tahu, debaran sesak yang memenuhi relung ini juga pemberian Yang Maha Kuasa, menerimanya dengan tanpa banyak protes dan memamahami bahwa masih ada banyak peran yang tidak mendapat bagian sepertiku. 

Menyesalkan siapa, diberi cinta yang stabil malah ingin cinta romantis yang liar, diberi pencapaian stagnan malah ingin pencapaian untuk menyombongkan diri. Manusia memang tak pernah puas akan diri sendiri. 

Ternyata Hanya Abu

Secara ontologi memang tidak ada hitam atau  putih. Semua hanyalah abu-abu, yang membedakan spektrumnya hanyalah abu-abu yang kehitam-hitaman atau mendekati keputih-putihan. Abu-abu ini sangat kompleks. Sepersekian persen diri kita yang berada di dalam kepala akan sangat berbeda dengan apa yang kita tampilkan di ruang publik. 

Apalah makna di balik kata. Sejatinya kita semua cacat pada hal-hal tertentu dan saling mengimbangi melengkapi untuk hidup bersama. Namun kamu tidak. Aku kira kita berharga. Tidak ternyata. Hanya ego yang terus haus akan pengakuan dan adiksi akan pujian yang dapat kau baca walau orang lain tak mengatakannya. Lukamu menumbuhkanmu hingga sebesar hatimu sekarang. Hati yang kosong, yang kuucapkan bertahun-tahun lalu. Sedangkan di lain waktu aku merasa kamu begitu rumit dengan berbagai keadaanmu. 

Aku sudah merasakannya jauh sebelum aku menyadarinya. Kamu tidak seperti kebanyakan orang. Dari luar mampu kamu tunjukkan betapa hebat dan didambakannya dirimu. Namun aku sudah melihat kesepian mendalam yang terpancar dari dalam dirimu. Kamu memperlihatkannya begitu jelas. Membuat orang bertanya-tanya kenapa orang sehebat kamu merasa sendiri di dunia yang luas ini. 

Kamu menghadirkan diri, mengucapkan kata manis, merelakan waktumu terbuang, hanya untuk pergi tiba-tiba dan menghilang. Kamu memperlihatkan seperti kamu peduli, namun sesungguhnya itu  hanya lubang jebakan supaya koleksimu tidak pergi kemana-mana. Kamu memainkan permainan kanak-kanak seakan menjebak sebanyak mungkin lalu menarik mereka sesuka hati sesuai kebutuhanmu. Mereka mengemis dan memohon kau tarik tanpa sebab. Kamu mendorong ke dalam jebakan itu, dan seakan mengulurkan tangan untuk menolong. Memberikan kesakitan sekaligus obatnya dalam waktu yang sama. Lalu tersenyum bahagia karena yang sudah dijebak malah menikmati pertolonganmu. Terlalu cerdas otakmu merencanakan sesuatu yang terlalu naluriah. Otakmu memang berbeda. Kamu tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya, lukamu menumbuhkan hidupmu.