Aku tak lagi takut kamu kenapa-kenapa sebab kini kamu telah memiliki siapapun. Tak kekurangan apapun, bahkan kamu mengendalikan banyak hal sekaligus, harusnya egomu telah luber-luber terpenuhi. Pertanyaannya apakah kamu sudah berhati-hati dalam mengoleksi mereka. Aku harap kali ini kamu selamat.
Apakah aku kejam? justru bila memilih terus menemanimu maka aku bukanlah orang baik. Kamu tau ini sangat berisiko, tapi kamu tetap diam. Aku pun semakin yakin bila tak ada niatmu untuk mejagaku dari bahaya. Bahkan membawaku masuk ke dalam kobaran api yang menyala-nyala siap melahap kita kapan saja.
Andai kita sadar lebih awal, kita tak saling menyakiti sedalam ini. Namun tanpa kejadian ini kita pun tak kan sadar satu sama lain bahwa ini harus dihentikan sekarang juga. Kita menolak melakukan hal terbaik, kuputuskan seperti ini saja pada akhirnya.
Tali yang melilitku sudah cukup rapat menekan napasku, sudah lebih susah menghirup udara bersih. Kepalaku sangat keruh oleh asumsi keadaanmu, perasaan tak menentu macam berputar-putar seperti puting beliung ingin menghempaskan apa saja di depannya.
Hei, kamu tak membutuhkanku. Berhenti saling melukai seperti ini adalah jalan terbaik. Suatu saat kita akan sadar bahwa kehidupan ini lebih penting daripada keinginan untuk yang tidak penting. Percayalah bahwa tanpa satu sama lain pun akan baik-baik saja. Dunia berputar seperti biasanya, air mengalir tetap dari hulu ke hilir. Kamu dan aku akan tetap hidup dengan bahagia.
Semuanya setimpal, aku tak menemukannya pada dirimu, dan kamu tak menemukannya pada diriku. Kita hanya salah jalan dan salah orang, selebihnya hanya perlu menilai diri yang bagaimana yang lebih baik untuk kedepannya.
Jalannya berbeda tapi tujuannya sama. Tak harus bergandeng tangan, tak harus saling mengabari, selama hati hidup dengan damai yakin waktu akan berputar dengan adil, tanpa protes seperti aku yang merasa takdir ini begitu bercanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar