Senin, 17 Desember 2018

Terlepas


                Berawal dari pertengkaran kita malam itu. Aku sengaja meminta duduk di belakangmu, dan kuharap bisa menemani malammu. Seperti biasa, aku mengoceh seperti jalan itu hanya milik kita berdua. Kau selalu menjadi pendengar yang baik walaupun di atas motor itu. Kau menjadi pendiam saat ku mulai ceritakan bagaimana kujalani hari-hariku. Tidak hanya itu, aku juga menceritakan kuliahku padamu. Kau menerimanya dengan baik, kau tertarik, dan aku senang kau menikmatinya.
                Kita telah terbiasa menjadi jauh maupun menjadi dekat. Terbiasa tanpa pengertian dan pemahaman atas peran masing-masing. Kita terbiasa tuk menutup semua sumber cinta dan kebahagiaan pada diri kita. Kita terbiasa tuk menyamar menjadi orang lain saat kita sedang bersama. Kita membuat suasana rindu begitu terpendam dan hadir tiba-tiba seolah rindu meledak ketika kita saling menatap mata.
             Malam itu, mungkin hatiku sedang kalut. Aku merasa tak berguna untukmu. Ku tumpahkan semua keluhku padamu yang semua itu adalah tentangmu. Bagaimana yang kurasa di hadapanmu, bagaimana sikapmu padaku, dan bagaimana engkau tak pernah mengatakan tidak bagaimanapun ku memintamu. Aku marah.. melihat diriku tak sebaik mereka yang berada di dekatmu. Sedang kau hadir saat ku membutuhkanmu. Kemudian engkau hilang untuk waktu yang lama, saat aku mengingatmu kau kembali padaku. Bagaimana bisa aku menerimamu setiap saat kamu membutuhkanku. Bagaimana hatiku terus memaafkanmu walaupun kata maaf tak pernah terucap dari mulutmu.
                “Hei, apa aku bagimu? Aku tidak cantik dan kau begitu bersinar. Aku siapa berani bersanding di sampingmu?,” kutanyakan itu berkali-kali padamu. Kau hanya diam. Kemudian kau menjawab, “Kenapa selalu bertanya seperti itu, mesti gitu.” Kau tak pernah memberikan jawaban pasti untukku. Bagiku kau mau kembali saja sudah bahagia bukan kepalang aku ini.