Berawal
dari pertengkaran kita malam itu. Aku sengaja meminta duduk di belakangmu, dan
kuharap bisa menemani malammu. Seperti biasa, aku mengoceh seperti jalan itu
hanya milik kita berdua. Kau selalu menjadi pendengar yang baik walaupun di
atas motor itu. Kau menjadi pendiam saat ku mulai ceritakan bagaimana kujalani
hari-hariku. Tidak hanya itu, aku juga menceritakan kuliahku padamu. Kau
menerimanya dengan baik, kau tertarik, dan aku senang kau menikmatinya.
Kita
telah terbiasa menjadi jauh maupun menjadi dekat. Terbiasa tanpa pengertian dan
pemahaman atas peran masing-masing. Kita terbiasa tuk menutup semua sumber
cinta dan kebahagiaan pada diri kita. Kita terbiasa tuk menyamar menjadi orang
lain saat kita sedang bersama. Kita membuat suasana rindu begitu terpendam dan
hadir tiba-tiba seolah rindu meledak ketika kita saling menatap mata.
Malam
itu, mungkin hatiku sedang kalut. Aku merasa tak berguna untukmu. Ku tumpahkan
semua keluhku padamu yang semua itu adalah tentangmu. Bagaimana yang kurasa di
hadapanmu, bagaimana sikapmu padaku, dan bagaimana engkau tak pernah mengatakan
tidak bagaimanapun ku memintamu. Aku marah.. melihat diriku tak sebaik mereka
yang berada di dekatmu. Sedang kau hadir saat ku membutuhkanmu. Kemudian engkau
hilang untuk waktu yang lama, saat aku mengingatmu kau kembali padaku.
Bagaimana bisa aku menerimamu setiap saat kamu membutuhkanku. Bagaimana hatiku
terus memaafkanmu walaupun kata maaf tak pernah terucap dari mulutmu.
“Hei,
apa aku bagimu? Aku tidak cantik dan kau begitu bersinar. Aku siapa berani
bersanding di sampingmu?,” kutanyakan itu berkali-kali padamu. Kau hanya diam.
Kemudian kau menjawab, “Kenapa selalu bertanya seperti itu, mesti gitu.” Kau
tak pernah memberikan jawaban pasti untukku. Bagiku kau mau kembali saja sudah
bahagia bukan kepalang aku ini.