Rabu, 18 Februari 2026

Mengubur Jati Diri

Semua sudah berlalu. Ternyata aku tetap kosong dengan dalih karena telah pergi. Nyatanya aku sendiri masih kehilangan jati diri. Yang kuinginkan yang kumau bukan ini dalam hati. Namun sudah kucoba menerima dan melakukan apa yang seharusnya kukerjakan. 

Tidak akan kutanyakan mengapa. Masih ada ruang kosong dalam dada yang menyakitkan bila kurasakan dengan benar. Ruang ini membelenggu dan mengikat tubuh, menarik anggota tubuh yang lain untuk turut merasakan kepenatannya. Penat? Bukankah dia kosong? Kenapa bisa menjadi terasa penat? 

Ini bukan tentang covert. Biarkan dia dengan masalahnya sendiri yang sama sekali tak ingin aku terseret juga ke dalam kerumitan hidupnya. Aku hanya aku sekarang. Perasaan yang mengikis diri yang otentik ini lama-lama terasa sesak. Berteriak pada siapa? Akan meminta bantuan pada siapa? Semua terlihat menutup telinga. Apa aku juga salah satu covert yang haus pengakuan? 

Tidak, aku bukan covert. Aku hanya kehilangan diriku sejenak. Cinta yang stabil, kehidupan yang harmonis inilah yang kubutuhkan. Namun terasa hambar, membakar semua harapan, melupakan segala ambisi dan asa yang dulu pernah aku bangun. 

Aku sudah melupakan segala pertentangan itu, kukuatkan hati untuk menuju jalan yang menurutku baik untuk hidupku. Tapi diriku masih meronta ingin dipuaskan egonya untuk diaktualisasi. Bagaimana bila kubunuh saja diriku yang kehausan ini? Kubuang jauh-jauh dan tak kan melihatnya kembali? 

Ibarat salah satu bagian otak yang masih berfungsi dibuang begitu saja. Setelah meredupkannya, memendamnya, dan menidurkannya aku yakin suatu saat diriku yang itu akan bangun dan bangkit suatu saat nanti. Dan di saat itu umur telah menua, kesempatan semakin sempit walau tidak ada yang terlambat. Ingin saja satu hal baik dalam diri ini bisa berkembang mungkin tak sepenuhnya kehilangan diriku sendiri. 

Jangan menyalahkan siapapun. Hidup ini aku sendiri yang pilih, aku harus terlihat baik-baik saja dan bahagia. Harus melangkah walau hanya mundur, harus tetap tersenyum walau hatiku perlahan mati, tetap memberikan yang terbaik untuk orang lain walau racun dalam diri terus menyebar. Tangisku hanya aku yang tahu, debaran sesak yang memenuhi relung ini juga pemberian Yang Maha Kuasa, menerimanya dengan tanpa banyak protes dan memamahami bahwa masih ada banyak peran yang tidak mendapat bagian sepertiku. 

Menyesalkan siapa, diberi cinta yang stabil malah ingin cinta romantis yang liar, diberi pencapaian stagnan malah ingin pencapaian untuk menyombongkan diri. Manusia memang tak pernah puas akan diri sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar