Selasa, 12 Mei 2026

yang Sekara(ng/t)

Ya, aku tahu lagi sekarang.

Seperti kata kitab, Rab mengubah dan membolak-balikkan hati manusia sepersekian detik begitu saja. Seperti pemikiranku tentangmu berubah-ubah, bergejolak tiba-tiba, dan menghilang begitu saja setelahnya.

Manusia memang, normal memiliki banyak sisi. Bisa saja hari ini kita begitu baik, besok belum tentu. Asalkan tetap pada lingkaran aman dan tidak keluar batas. Marah, menangis, dan kecewa adalah lumrah rasa kehidupan.

Senang sesaat, bahagia adalah wujud dari perjuangan, perih, dan penuh peluh. Semua itu didapat bersama waktu yang kadang terpotong di memori kita. Siapa yang benar-benar ada mengisi hari-hari tanpa banyak bertanya dan protes, siapa yang memeperjuangkan hidup kita tanpa banyak meminta timbal balik.

Ya, mungkin otak logic sedang bekerja sekarang. Melupakan emosi sesaat yang hadir bersama kegelapan. Aku mengingat itu kembali sebagai hal yang berkali-kali salah. Namun satu waktu hal itu sama sekali bukan kesalahan. Uniknya alam bawah sadarku berkali-kali mengingatkan dengan berwujud orang-orang yang benar-benar aku dengarkan dalam hidup ini. Secanggih itu Rab menciptakan dan mendesain manusia.

Dan mimpi-mimpi itu saat dirangkai menjadi satu, selalu ada benang merah yang dapat ditarik, semua memiliki jalan ceritanya sendiri. Bukankah dari sini kamu tau bahwa aku sangat Freud-ian.

Kamu tahu, saat aku berusaha menekan gejolak energi, mengakuinya lalu melepaskannya, alam bawah sadarku memproyeksikan orca yang berenang tenang di kedalaman sebagai gambaran yin dan yang yang seimbang dan tenang.

Namun saat mulai melebihi batas, orca tak pernah kembali. Lautan yang indah tak lagi menemani tidurku, hanya manusia-manusia yang mencoba menyadarkanku terus datang menasehati, memarahi, bahkan menghakimi serta memberi karma.

Sekuat ini alam bawah sadar yang kadang disepelekan. Namun aku tak sepenuhnya menyalahkanmu lagi, kamu tak sejahat itu menorehkan luka. Kamu hanya perantara supaya aku lebih mengenal dan menemukan jati diriku. Hingga hari ini aku mulai menemukan sedikit demi sedikit kepingan-kepingan inti jiwaku yang sempat hilang beberapa tahun ini.

Aku mulai menyusun diriku satu per satu, mencari siapa diriku dan apa saja yang aku inginkan. Kamu tak lagi ingin aku matikan,namun selalu ingin kubiarkan saja terpajang di sana dengan nyaman. Kamu tau, kamu pun mementingkan dirimu sendiri. Sama sekali tak memberikan hatimu, hanya menjadi apa yang orang lain inginkan dan tidak pernah bernar-benar menjadi diri sendiri di hadapan orang lain. Apakah aku berlagak sok mengenalmu sekarang? Bahkan dari dulu inilah yang menyebabkanmu membuangku.

Cerita akan terus bergulir, mungkin kemarin kamu antagonis, bisa jadi sekarang kamu adalah protagonis bahkan keduanya sekaligus. Aku pun tak mengatakan diriku benar, aku memahami bahwa kita sama saja. Tak ada yang lebih buruk di antara kita, karena kita sama buruknya.

Bahkan aku tau hal ini, mungkin kamu pun juga merasakannya. Dan kita memahami bahwa kita terhubung dalam diam. Terlalu kuat telepati hingga sebaiknya saling berhenti berpura-pura adalah hal terbaik.

Seseorang tak mungkin selalu berada dalam mode hati-hati dan waspada setiap saat. Apalagi seperti kita yang sedikit-sedikit bosan. Akhirnya kita menemukan arah yang berbeda. Entah suatu saat arah kita bisa sama lagi, atau bahkan saling menjauh dan sama sekali tak pernah bertemu.

Semua adalah takdir. Takdir bisa mempermainkan sejauh ini adalah sama sekali bukan kuasa kita. Namun cara kita saling menarik dan menjauh tanpa perlu mengatakan apapun adalah teknik yang tidak mudah bukan? Mungkin karena kita terlalu hafal pola dan aturan mainnya. Sifat dan watak yang kita temukan di diri masing-masing tetap sama seperti yang dulu. Frekuensi yang tidak jauh berbeda ini akan memahami satu sama lain dalam makna yang berbeda.

Entah cerita ini akan selesai sampai kapan, yang kutahu kita memilikinya selamanya. Karena tidak ada kata berakhir. (hanya ada kata bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar