Saat kamu berhadapan dengan masalah dan menyeretku ke dalam masalah itu, kamu berkata, "Ingin tenang bersamamu."
Saat aku mencarimu dan menemukanmu, lalu kamu berlalu begitu saja, seakan tak perduli. Kemudian aku pergi, kamu mengatakan, "Lho, kok pergi?"
Saat setiap kali hari penting di hidupmu aku selalu datang, namun tak sekalipun kamu datang di hari pentingku. Lalu saat kita telah jauh, kemudian kamu berangkat ke luar negri kamu berkata, "Aku pamit dulu, mau dibawain oleh-oleh apa?"
Saat bertahun-tahun kita tidak bertemu, kemudian kita memutuskan untuk bertemu kamu mengatakan, "Ya mau ketemu kapan, mau dibawain apa?"
Saat aku bertanya kamu sebenarnya adalah kotak kosong atau kotak yang rumit, kamu hanya diam.
Saat kamu tiba-tiba pergi dari seseorang kemudian pergi ke orang lainnya kamu berkata bahwa orang sebelumnya adalah "orang yang tak tergantikan".
Saat kamu sudah dekat dan merasa orang tersebut sudah pada levelnya kamu berkata, "tidak sesuai ekspektasi".
Saat kamu ditanya kita ini apa? Lalu kamu menjawab, "Hanya teman".
Kamu mengangkat setinggi-tingginya dan menjatuhkan sekeras-kerasnya. Kamu memberikan keesakitan dan mengobatinya. Kamu memberikan racun dan memberikan penawarnya. Kamu memberikan pertolonganmu sambil menertawakan kesulitanku. Kamu meletakkan dirimu di atas segalanya.
Saat ditanya apa makna seseorang yang kamu kenal bagimu, "Semua orang istimewa dengan uniknya sendiri-sendiri".
Saat seseorang berada jauh darimu, kamu tidak mendekat, tapi mengatakan, "Mendekatlah!"
Kamu meletakkan ekspektasi yang tinggi, menggunakan kata-kata yang bermakna luas yang membuat orang bertanya-tanya apa maksudnya.
Saat kamu kehilangan sesuatu pada orang lain kamu menjawab, "Kasian kalau tidak ditolong".
Kamu meletakkan dirimu adalah penolong pemilik empati sekaligus menjadi senjata untuk membuat orang lain peduli padamu.
Kamu selalu berkats dengan halus penuh tipu daya dan manipulatif. Menghubungi hanya bila perlu sesuatu saja. Hanya hubungan asas kebutuhan dan manfaat saja.
Kamu akan berakata bahwa, "Seseorang memberikan apa yang kamu butuhkan, namun bukan apa yang kamu inginkan".
Jadi seperti apa orang yang kamu inginkan? Sesempurna apa kamu hingga menginginkan orang yang sempurna juga. Sesempurna apa pula orang yang ada dalam pikiranmu? Kamu terlalu naif menerima kekurangan seseorang. Hanya ingin kelebihannya saja. Saat kelebihannya tak berguna lagi lalu kamu membuangnya begitu saja. Tak memperdulikannya dan mencari lagi yang dapat kamu habiskan kelebihannya. Orang yang baru ini menurutmu akan memberikan manfaat yang lebih besar. Namun kamu lupa bahwa setiap orang miliki kekurangan, dan kamu tak dapat sesuatu yang dimiliki orang sebelumnya pada orang yang baru ini, lalu kamu menyedot kembali orang yang sebelumnya untuk memenuhi kehausan egomu.
Hidupmu akan terus berjalan seperti itu. Siklus yang sama setiap waktu dengan melibatkan banyak orang-orang baik dalam permainan emosi dan egomu. Mereka terjebak, mengalami trauma bonding secara terus menerus. Tanpa kamu peduli, tanpa empati, kamu meninggalkannya begitu saja karena tak cukup baik bagimu, dan kamu sudah menyewa lahan gratis di otak mereka. Mereka akan terus terbayang olehmu seperti memori yang tak dapat dihapus. Butuh obat khusus untuk menghapus wajah yang selalu kamu pasang topeng itu. Topeng yang tertawa namun wajah aslinya menangis. Topeng yang berani, namun wajah aslinya ketakutan. Topeng yang rupawan, namun wajah aslinya memuakkan. Ingin kulihat wajahmu yang sesungguhnya. Serapuh apa dirimu, hingga ingin menyeret orang-orang yang bahagia menjadi pemurung dan penyendiri. Sesakit apa hidupmu hingga ingin orang-orang yang sehat akalnya menjadi rusak karena manipulasimu. Dan akhirnya aku sadari, memang isi kepala kita berbeda. Kamu full menggunakan logika, tanpa perasaan. Kamu menggunakan kecerdasan penuh untuk merencanakan manipulasi emosi untuk memenuhi egomu yang tak akan pernah puas. Kamu telah membohongi dirimu sendiri. Kamu berada pada tepi tebing namun kamu bertahan sangat hati-hati. Mencoba selalu menyakiti sebelum disakiti. Sungguh ironi hidupmu ini. Dan ingin sekali aku menertawakannya. Namun aku manusia biasa, justru sangat kasihan melihat satu anak manusia tidak punya hati dan tidak berperasaan. Sampai kapan berdiri di atas tebing seperti itu, tidak takut jatuh? Atau mari kita tunggu saja, kapan kamu akan jatuh? Dimana waktu yang sangat aku nantikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar