Sabtu, 28 Februari 2026
Menunggu mati
Burnout
Luka
Jumat, 27 Februari 2026
Darah Narsisis
Telah memudar sedikit demi sedikit
Aku yakin darah yang mengalir karena tebasan pedang emosional itu lama-lama akan mengering
Hanya menunggu waktu untuk membuat bekas yang unik di tubuh aslinya
Kamu yakin kamu menang?
Sedangkan kamu kehilangan banyak hal di dunia ini
Kamis, 26 Februari 2026
Selangkah demi selangkah berjarak darimu
Masih memimpikanmu, di dalam ruangan putih, kita duduk beralaskan kain bercorak bunga. Dari sela keramik muncul banyak hewan menggeliat merah kecil seperti benang. Seakan menyimbolkan kenangan manis yang telah membusuk dan tiba saatnya untuk terurai oleh waktu.
Aku tau, perjalanan untuk pergi darimu tidaklah mudah. Lahan yang kamu sewa tanpa imbalan di otakku ini, masih terikat kontrak, mungkin baru beberapa bulan lagi masanya habis. Tidak masalah bagiku.
Akan kunikmati, setiap langkah menjauh darimu. Akan kunikmati setiap potongan rekaman menyakitkan itu terulang-ulang di kepalaku. Suatu kenangan yang tak bermakna bagimu.
Aku melihatmu. Mungkin kamu telah melakukan banyak hal, tapi aku tau bahwa kamu hanya ingin diakui oleh dunia luar. Kamu tidak benar-benar bisa menemukan jati dirimu. Kamu kehilangan esensi murni dari dalam hatimu, yang kita semua punya, dan kita sebut 'empati', kamu tidak memilikinya.
Rabu, 25 Februari 2026
Kata-kata darimu yang mengendap menjadi erosi di benakku
Saat kamu berhadapan dengan masalah dan menyeretku ke dalam masalah itu, kamu berkata, "Ingin tenang bersamamu."
Saat aku mencarimu dan menemukanmu, lalu kamu berlalu begitu saja, seakan tak perduli. Kemudian aku pergi, kamu mengatakan, "Lho, kok pergi?"
Saat setiap kali hari penting di hidupmu aku selalu datang, namun tak sekalipun kamu datang di hari pentingku. Lalu saat kita telah jauh, kemudian kamu berangkat ke luar negri kamu berkata, "Aku pamit dulu, mau dibawain oleh-oleh apa?"
Saat bertahun-tahun kita tidak bertemu, kemudian kita memutuskan untuk bertemu kamu mengatakan, "Ya mau ketemu kapan, mau dibawain apa?"
Saat aku bertanya kamu sebenarnya adalah kotak kosong atau kotak yang rumit, kamu hanya diam.
Saat kamu tiba-tiba pergi dari seseorang kemudian pergi ke orang lainnya kamu berkata bahwa orang sebelumnya adalah "orang yang tak tergantikan".
Saat kamu sudah dekat dan merasa orang tersebut sudah pada levelnya kamu berkata, "tidak sesuai ekspektasi".
Saat kamu ditanya kita ini apa? Lalu kamu menjawab, "Hanya teman".
Kamu mengangkat setinggi-tingginya dan menjatuhkan sekeras-kerasnya. Kamu memberikan keesakitan dan mengobatinya. Kamu memberikan racun dan memberikan penawarnya. Kamu memberikan pertolonganmu sambil menertawakan kesulitanku. Kamu meletakkan dirimu di atas segalanya.
Saat ditanya apa makna seseorang yang kamu kenal bagimu, "Semua orang istimewa dengan uniknya sendiri-sendiri".
Saat seseorang berada jauh darimu, kamu tidak mendekat, tapi mengatakan, "Mendekatlah!"
Kamu meletakkan ekspektasi yang tinggi, menggunakan kata-kata yang bermakna luas yang membuat orang bertanya-tanya apa maksudnya.
Saat kamu kehilangan sesuatu pada orang lain kamu menjawab, "Kasian kalau tidak ditolong".
Kamu meletakkan dirimu adalah penolong pemilik empati sekaligus menjadi senjata untuk membuat orang lain peduli padamu.
Kamu selalu berkats dengan halus penuh tipu daya dan manipulatif. Menghubungi hanya bila perlu sesuatu saja. Hanya hubungan asas kebutuhan dan manfaat saja.
Kamu akan berakata bahwa, "Seseorang memberikan apa yang kamu butuhkan, namun bukan apa yang kamu inginkan".
Jadi seperti apa orang yang kamu inginkan? Sesempurna apa kamu hingga menginginkan orang yang sempurna juga. Sesempurna apa pula orang yang ada dalam pikiranmu? Kamu terlalu naif menerima kekurangan seseorang. Hanya ingin kelebihannya saja. Saat kelebihannya tak berguna lagi lalu kamu membuangnya begitu saja. Tak memperdulikannya dan mencari lagi yang dapat kamu habiskan kelebihannya. Orang yang baru ini menurutmu akan memberikan manfaat yang lebih besar. Namun kamu lupa bahwa setiap orang miliki kekurangan, dan kamu tak dapat sesuatu yang dimiliki orang sebelumnya pada orang yang baru ini, lalu kamu menyedot kembali orang yang sebelumnya untuk memenuhi kehausan egomu.
Hidupmu akan terus berjalan seperti itu. Siklus yang sama setiap waktu dengan melibatkan banyak orang-orang baik dalam permainan emosi dan egomu. Mereka terjebak, mengalami trauma bonding secara terus menerus. Tanpa kamu peduli, tanpa empati, kamu meninggalkannya begitu saja karena tak cukup baik bagimu, dan kamu sudah menyewa lahan gratis di otak mereka. Mereka akan terus terbayang olehmu seperti memori yang tak dapat dihapus. Butuh obat khusus untuk menghapus wajah yang selalu kamu pasang topeng itu. Topeng yang tertawa namun wajah aslinya menangis. Topeng yang berani, namun wajah aslinya ketakutan. Topeng yang rupawan, namun wajah aslinya memuakkan. Ingin kulihat wajahmu yang sesungguhnya. Serapuh apa dirimu, hingga ingin menyeret orang-orang yang bahagia menjadi pemurung dan penyendiri. Sesakit apa hidupmu hingga ingin orang-orang yang sehat akalnya menjadi rusak karena manipulasimu. Dan akhirnya aku sadari, memang isi kepala kita berbeda. Kamu full menggunakan logika, tanpa perasaan. Kamu menggunakan kecerdasan penuh untuk merencanakan manipulasi emosi untuk memenuhi egomu yang tak akan pernah puas. Kamu telah membohongi dirimu sendiri. Kamu berada pada tepi tebing namun kamu bertahan sangat hati-hati. Mencoba selalu menyakiti sebelum disakiti. Sungguh ironi hidupmu ini. Dan ingin sekali aku menertawakannya. Namun aku manusia biasa, justru sangat kasihan melihat satu anak manusia tidak punya hati dan tidak berperasaan. Sampai kapan berdiri di atas tebing seperti itu, tidak takut jatuh? Atau mari kita tunggu saja, kapan kamu akan jatuh? Dimana waktu yang sangat aku nantikan.
Kamis, 19 Februari 2026
Permainanmu : covert narsisis
Aku tahu, ini bukan cinta, juga bukan kasih sayang. Hanya menyukai citra sempurna, walau ada sedikit iba. Kamu sempurna di mataku sekaligus menyedihkan. Kamu membuat orang-orang mengagumimu, namun tidak semua orang mampu mendengarkan jerit permintaan tolong darimu.
Aku mendengarnya dan bahkan kamu mengakuinya. Kamu pernah berkata seperti menjadi burung yang berkicau di tengah-tengah keramaian. Tak ada yang mendengarmu dan tak ada yang peduli denganmu. Namun bayangkan! Aku mampu mendengarkan kicauanmu, aku mampu melihat warna sayapmu, dan aku mampu mengobati lukamu. Dan lambat-laun kusadari bahwa bukan hanya aku yang terjebak di dalam kondisi yang sudah kamu rancang ini.
Aku pun menyadari kenapa tak ada yang mendengarkanmu. Karena kamu berbeda. Kamu tercipta tak sama. Kamu terlalu abu-abu untuk orang-orang yang hitam atau putih. Kamu sudah terlalu lama terluka karena emosi sejatimu terabaikan.
Aku tahu, selama ini keinginanmu tak didengar, temanmu sedikit, kau terpenjara di ekspektasi tinggi seseorang. Kamu menjadi aspek yang ditinggikan sampai kemauanmu sendiri terabaikan. Dan sampai sekarang kamu tidak tahu apa yang benar-benar membuatmu bahagia. Kamu merasa kurang atas apa yang kamu dapatkan. Kamu merasa tak pernah cukup mendapat cinta dari seseorang. Karena selama ini kamu tak tahu apa dan bagaimana cinta kasih yang sesungguhnya tulus. Walaupun bagi seseorang itu, selama ini kamu telah bergelimang kasih-sayang. Padahal kamu menganggap itu adalah jeratan dan penjara yang bersembunyi di balik kata perlindungan. Kamu tak pernah berontak, kamu hanya penurut, kamu hanya ingin terlepas pelan-pelan, dan akhirnya kamu kini berhasil. Kamu bebas!
Sayangnya, keberhasilanmu untuk bebas bukanlah akhir dari perjuanganmu. Kamu masih ingin menjadi liar dengan diam-diam. Kamu belum cukup bahagia hanya dengan melepas belenggu rantai emosi sejatimu. Kamu menjadi rakus dan serakah akan kuasa untuk mengendalikan perasaan mereka. Kamu haus akan pengakuan mereka. Kamu butuh didambakan oleh mereka, dan kamu sama sekali tak mampu melepas mereka, serta tak mampu pergi darinya. Kamu menata perasaan mereka bak buku di rak-rak dengan waktu dan keadaan yang kau inginkan. Jika kamu membutuhkan keuntungan materi, kamu akan membuka buku perasaan yang paling atas, dan jika kamu menginginkan keuntungan emosi maka kamu membuka buku perasaan di rak paling bawah. Aku malah melihat kamu bak pengamen, mendatangi rumah-rumah, bila tak diberi uang kamu pergi, bila diberi uang kamu berhenti sejenak dan mengingat rumah itu untuk datang lagi di kemudian hari. Kamu memberi jarak dan menggambarkan citra diri yang misterius.
Kamu berbeda. Kamu tidak memiliki rasa bersalah sesaat setelah meninggalkan begitu lama kemudian tiba-tiba datang. Kamu juga tanpa rasa sungkan tiba-tiba pergi begitu saja sesaat setelah memberikan kata-kata manis yang disebut love-bombing dari satu rak ke rak yang lain, dari satu buku perasaan ke buku perasaan lain. Kamu memilih untuk memaikai buku yang mana untuk disedot energi dan validasinya sesuai kebutuhanmu. Kamu hanya berpura-pura empati dan menjual kesedihan untuk menjerat mangsamu, membiarkan buku-buku baru terjebak dan terjerat di antara tumpukan rakmu yang penat dan sesak. Terkadang kamu akan mencoba-coba untuk mencari buku baru pengisi rakmu yang kosong.
Hei sebenarnya, kamu kesepian dan rapuh dibanding siapapun! Kamu hanya senang dipuji, didambakan, diidamkan dan sangat haus serta lapar akan pengakuan. Kamu tak mau melepaskan satu pun hal yang sudah terpajang di rak bukumu. Padahal buku-buku itu hanya menunggu untuk kamu baca, namun tak satupun kamu membacanya. Kamu hanya mengambil buku acak kemudian menggunakannya sebagai ganjal kursi, sebagai alas piring makan, sebagai alas coret-coretK. Kamu tidak benar-benar mengenal mereka secara mendalam. Kamu takut terikat secara emosional dengan mereka para empath. Kamu memanfaatkan rasa iba untuk membawa mereka dalam arena permainan tarik-ulur dan jungkat-jungkit emosi & teka-teki perasaanmu. Membuat mereka bertanya-tanya kamu kenapa? Setelah berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun menghilang tanpa berpamintan, tiba-tiba hadir tanpa permisi mengacak-acak emosi seseorang. Mereka yang sadar bahwa awalnya sebelum kehadiranmu dirinya baik-baik saja, namun setelah kehadiranmu, mereka merasa dirinya tidak baik-baik saja akibat permainan ego-mu. Ada yang sampai gila, kehilangan jati diri, ada juga yang diam dan bertanya-tanya. Sebenarnya kamu kenapa? Kamu itu apa? Kamu kotak kosong atau kotak yang di dalamnya berisi benang yang ruwet dan sudah tak dapat diuraikan lagi?
Semakin mengenalmu dan memahamimu, kini aku mampu menjawab dan menemukan siapa dirimu sebenarnya. Kamu berbeda dari manusia kebanyakan. Kamu mengalami penyimpangan baik di otak secara berpikir maupun di perilakumu. Kamu membutuhkan bahan bakar untuk mengisi tangki ego yang tak pernah penuh dalam benakmu. Kamu membutuhkan banyak orang normal untuk menjadi pengikut yang setia dan selalu melihatmu seperti orang yang sempurna. Kesempurnaan yang kamu tampilkan di permukaan adalah ibarat sebuah kotak yang indah dengan warnanya yang mencolok dan bentuk yang unik, siapapun melihatmu ingin memilikimu. Sedangkan kamu seakan menjanjikan kepemilikan kepada setiap orang yang menginginkanmu. Kamu tidak benar-benar memilih satu untuk memilikimu. Kamu memberi janji manis bahwa suatu saat satu persatu dari mereka bisa kok memilikimu. Ah ternyata kamu sangat murahan!
Dan segala upaya yang kamu lakukan itu tidak lain halnya karena kamu hanya sebuah kotak kosong! Kamu kesepian, sendirian, terabaikan, tak dipedulikan, tak ada yang benar-benar paham di mana letak hatimu berada. Sehingga kamu takut disakiti, takut tak dicintai sepenuh hati, takut perasaanmu tak sepadan, takut cintamu bertepuk sebelah tangan. Jadi, sebelum kamu tersakiti, kamu menyakiti terlebih dulu. Sebelum kamu ditinggalkan, kamu meninggalkan terlebih dulu. Sebelum kamu menangis, kamu buat seseorang menangis terlebih dulu. Dan setelah kamu berhasil membuat seseorang menangis dan merasakan kehilangan lebih dari yang kamu rasakan, bahkan lebih parah darimu, kamu pun tertawa, kamu tersenyum, kamu bangga, dan kamu bahagia mengetahui bahwa seseorang telah benar-benar tak bisa hidup tanpamu. Kamu sendiri lebih gila daripada korbanmu!
Kamulah racun yang seolah-olah membawakan obat penawarnya di saat itu juga. Seakan kamu mendorong buku itu sampai jatuh, dan menangkapnya sebelum menyentuh lantai. Kamu memberikan trauma bonding yang melekat, adiktif, dan membuat sakau bila kamu menghilang. Kamu memanfaatkan perasaan yang tulus mencintaimu hanya untuk melihat apakah mereka terjebak atau tidak. Bila mereka telah terjebak, kamu akan menarik ulur hatinya, memainkan perasaannya, tidak memperdulikan tangisan bahkan rintihannya. Kamu merasa menang akan kuasa mengendalikan perasaan seseorang. Kamu berteriak hore di atas derita seseorang yang telah terluka karena jungkat jungkit emosi yang kamu mainkan. Kamu hanya memberi kata-kata manis tanpa pembuktian, kamu menceritakan kesamaan yang memang telah kamu rencanakan untuk mendapatkan empati dan harapan kesetiaan. Kamu memutar perasaan di ujung tebing dan mendorong seseorang untuk terjun tanpa syarat dengan pertanyaan, "Kenapa kamu menjatuhkanku?" Lalu tanpa rasa bersalah telah menjatuhkan, dan sambil menangkap tubuh itu dari bawah kamu menjawab, "Untuk menyelamatkanmu!" Inilah kondisi yang kamu inginkan, berlaga baik untuk diterima namun menunggunakan cara yang salah.
Luar biasa drama dan sandiwara yang kamu mainkan. Seolah kamu menguasai dan mengendalikan permainan. Luar biasa!!! Menyalahgunakan kejeniusan otakmu hanya untuk membuat permainan sakit hati yang bertubi-tubi saling menghancurkan ini. Mereka hancur berkeping-keping karena trauma bonding dan kamu hancur karena lama-kelamaan hatimu mati sehingga tak kan ada seorangpun suatu saat nanti yang bisa menerimamu apa adanya dan tiada yang bisa menemani dengan tulus di seumur hidupmu. Kamu hidup dalam kepalsuan, ketakutan, dan ketidakpercayaan. Kamu memberi banyak tes untuk orang yang ada di dekatmu, memastikan mereka masih mampu kamu kendalikan. Kamu menciptakan ruang dimana hanya kamu yang bisa mengendalikannya. Ada tombol ego, emosi, dan pengabaian. Kamu akan hidup di dalam bayangan sempurna yang kamu ciptakan sendiri. Dan sampai kamu mati dan semua ini berakhir, baru kamu sadar bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini seperti yang kamu gambarkan dalam permainanmu.
Rabu, 18 Februari 2026
Mengubur Jati Diri
Semua sudah berlalu. Ternyata aku tetap kosong dengan dalih karena telah pergi. Nyatanya aku sendiri masih kehilangan jati diri. Yang kuinginkan yang kumau bukan ini dalam hati. Namun sudah kucoba menerima dan melakukan apa yang seharusnya kukerjakan.
Tidak akan kutanyakan mengapa. Masih ada ruang kosong dalam dada yang menyakitkan bila kurasakan dengan benar. Ruang ini membelenggu dan mengikat tubuh, menarik anggota tubuh yang lain untuk turut merasakan kepenatannya. Penat? Bukankah dia kosong? Kenapa bisa menjadi terasa penat?
Ini bukan tentang covert. Biarkan dia dengan masalahnya sendiri yang sama sekali tak ingin aku terseret juga ke dalam kerumitan hidupnya. Aku hanya aku sekarang. Perasaan yang mengikis diri yang otentik ini lama-lama terasa sesak. Berteriak pada siapa? Akan meminta bantuan pada siapa? Semua terlihat menutup telinga. Apa aku juga salah satu covert yang haus pengakuan?
Tidak, aku bukan covert. Aku hanya kehilangan diriku sejenak. Cinta yang stabil, kehidupan yang harmonis inilah yang kubutuhkan. Namun terasa hambar, membakar semua harapan, melupakan segala ambisi dan asa yang dulu pernah aku bangun.
Aku sudah melupakan segala pertentangan itu, kukuatkan hati untuk menuju jalan yang menurutku baik untuk hidupku. Tapi diriku masih meronta ingin dipuaskan egonya untuk diaktualisasi. Bagaimana bila kubunuh saja diriku yang kehausan ini? Kubuang jauh-jauh dan tak kan melihatnya kembali?
Ibarat salah satu bagian otak yang masih berfungsi dibuang begitu saja. Setelah meredupkannya, memendamnya, dan menidurkannya aku yakin suatu saat diriku yang itu akan bangun dan bangkit suatu saat nanti. Dan di saat itu umur telah menua, kesempatan semakin sempit walau tidak ada yang terlambat. Ingin saja satu hal baik dalam diri ini bisa berkembang mungkin tak sepenuhnya kehilangan diriku sendiri.
Jangan menyalahkan siapapun. Hidup ini aku sendiri yang pilih, aku harus terlihat baik-baik saja dan bahagia. Harus melangkah walau hanya mundur, harus tetap tersenyum walau hatiku perlahan mati, tetap memberikan yang terbaik untuk orang lain walau racun dalam diri terus menyebar. Tangisku hanya aku yang tahu, debaran sesak yang memenuhi relung ini juga pemberian Yang Maha Kuasa, menerimanya dengan tanpa banyak protes dan memamahami bahwa masih ada banyak peran yang tidak mendapat bagian sepertiku.
Menyesalkan siapa, diberi cinta yang stabil malah ingin cinta romantis yang liar, diberi pencapaian stagnan malah ingin pencapaian untuk menyombongkan diri. Manusia memang tak pernah puas akan diri sendiri.