Tertawalah karena bayanganmu begitu membekas di alam bawah sadarku. Semua seperti mimpi dan ilusi itu. Bagaimana aku akan menjelaskan pada diriku di alam nyata bahwa aku masih terikat di dalam diriku sendiri.
Aku tak melihat dirinya begitu nyata, hanya saja residu dari perasaan ini tertinggal begitu kuat. Seperti racun yang sesekali kambuh saat diri tak terkendali dan tak mendapat asupan gizi untuk psikisnya. Kamu tau dengan jelas siapa kamu di hidupku dan seberapa keras aku ingin menghapusmu, walau aku telah tau bagaimana kamu yang sesungguhnya. Kamu menarik telepati begitu dalam, karena kamu tau mungkin aku bisa menerima semua dirimu yang polos dengan noda ataupun tidak, namun aku tak kau anggap sebagai manusia utuh, hanya benda mati yang dapat kamu manfaatkan sesukamu tanpa banyak usaha.
Aku tau kenyataan begitu pahit dan kamu akan mengatakan semua berawal dariku dan kamu hanya mengikuti, bukankah itu sangat tidak bertanggungjawab. Ya baiklah, yasudahlah, memang kamu begitu dari sananya. Berkat yang hanya beberapa persen orang di dunia ini miliki, taktik emosional yang sudah terlatih mengelabui mangsa dan mengendalikannya sesuka hati dan di saat yang kamu inginkan saja.
Sebenarnya ikatan ini begitu mudah untuk dilepas, hanya saja karena terlalu kuat jadi meninggalkan bekas yang begitu dalam, memar yang sangat membiru bahkan keunguan. Hanya butuh waktu hingga penawar racun dan obat-obat itu menyembuhkan luka-lukanya baik dari dalam maupun dari luar.
Sementara waktu terus berputar, aku hanya sibuk untuk menyembuhkan. Terserahlah padamu, mau sembuh tak mungkin, mau berulah lagi susah bagimu mendapat supply yang begitu taat pada manipulasimu. Yasudah terserahlah padamu, yang penting jangan kamu tarik aku lagi ke dalam medan magnetmu. Lelah jiwa dan raga ini.
Aku sudah bertahun lamanya mengeluh tentang ini, sudah saatnya aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya. Aku mengakui aku terluka, aku kesakitan, dan aku ingin menyembuhkan. Pahami bahwa diamku untuk mengalihkanmu, batas ini akan menyadarkanmu bahwa cari saja orang lain, jangan buat aku menderita lagi, dan aku tak berharap apa-apa lagi. Tak ingin tau hidup dan perjalananmu seperti apa. Karena terlalu muak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar