Tak semudah itu. Waktu dalam menjalaninya adalah jawaban. Terkadang bisa saja salah dalam mengartikan penyesalan. Meski sebenarnya merasakan emosi itu adalah hal yang tidak perlu. Namun dirasa perlu karena setelahnya membuat kita sadar tentang apa yang telah terlewatkan.
Menyesal, merenung, kemudian menyadari bahwa sesal itu hanya rasa yang berlalu, sehingga timbul rasa menghargai apa yang ada. Karena yang disesalkan adalah bukan milik kita. Justru yang dimiliki sekarang adalah hal yang luar biasa, jauh lebih baik daripada apa yang disesalkan.
Lama-lama menyadari bahwa apa yang telah terjadi adalah hal yang lebih baik, bahkan hal yang terbaik. Sebuah takdir yang bila diubah akan menimbulkan bencana, kerugian, bahkan mendatangkan musibah yang lebih besar akan datang di masa mendatang.
Terkadang emosi sesaat, pemikiran yang belum matang, ego yang belum seimbang perlu dilengkapi dengan pemilik emosi yang cenderung stabil, pemikir yang matang, dan penimbang yang baik. Tanpa disadari, telah kumiliki hal itu pada dirimu. Hal ini yang harus kusadari sebagai sebuah berkah dari langit yang tidak dapat disangkal.
Bahkan bila aku lebih membuka hati dan mataku, dia tidak lebih baik darimu dari sudut pandang manapun. Bila bandingannya materi dan dunia, kita kalah. Namun bila bandingannya adalah pendirian, keikhlasan, ketulusan, kesetiaan, justru kamulah pemenangnya. Kemurnian hati dan niat tidak bisa dibandingkan dengan gemerlap dunia yang semu apalagi hatinya yang sering bercabang-cabang.
Butuh sekian tahun untuk menyadari itu. Karena memang ini ujian tentang hubungan yang didasari oleh kepercayaan, kesucian, dan kesyukuran. Dari dulu selalu dikatakan untuk mengingat sebuah kebaikan daripada mengingat banyak keburukan. Tapi melakukannya tidak mudah. Butuh sekian dan banyak perbaikan untuk menyadarinya dan mengingatkan kembali tentang apa yang lebih kita butuhkan daripada apa yang kita inginkan.
Dalam hubungan yang kompleks, semua ini akan menjadi bumerang. Dimana kehidupan yang meliputi karier, pendapatan, pengeluaran, gaya hidup menjadi pemicu permasalahannya. Mulai dari persoalan yang sangat sederhana sampai pada persoalan rumit yang bisa saja saling memecah belah perasaan.
Laki-laki dengan insting alami yang memiliki pikiran logis sederhana berlawanan dengan wanita sebagai pemilik perasaan yang kompleks yang lebih dominan daripada pemikirannya. Hal ini menjadikan bahwa peristiwa penyatuan antara keduanya tidaklah mudah, butuh waktu, butuh proses untuk mewujudkan saling memahami diantara keduanya.
Namun apakah ketika terjadi masalah dalam hubungan kemudian kita langsung mencari orang lain untuk menggantikannya tanpa mencari solusi, memperbaiki, dan menyelesaikan konflik terlebih dahulu? Apakah tren dan standar sosial media begitu penting untuk kebaikan bersama? Ada waktu, materi, peluh yang juga dikorbankan untuk semua itu. Pemilik harta yang kaya raya mungkin tidak akan pusing dengan semua itu, namun pemilik hati yang tulus dan suci tidak akan membiarkan hubungan itu kandas hanya karena masalah-masalah yang masih bisa dimaafkan dan diperbaiki.
Ingat, dalam semua hal pasti terdapat persoalan. Manusia tidak ada yang sempurna. Kesalahan dan kebenaran mudah sekali dibedakan. Hanya saja mata dan hati kita terkadang malu dan sombong untuk mengakuinya. Memilih yang baik adalah wajib, bahkan mungkin sangat mudah. Namun merawat, mempertahankan, memberi kasih sayang, meluangkan waktu, memberi bimbingan dan pengertian adalah hal yang tidak mudah. Butuh kesadaran, tidak menyepelekan, dan butuh ketulusan supaya diterima dengan baik dan tidak membeban saat melakukannya. Kita tahu bahwa tidak semua orang memiliki hal itu. Karena setiap orang terkadang menyembunyikan satu atau dua hal dalam dirinya, dalam hatinya, dan dalam ucapannya. Hanya orang yang benar-benar tulus dan lurus niatnya yang bisa diandalkan. Mereka begitu pengertian dan sepenuh hati dalam menjalankan hubungan yang sudah diikat dalam pernikahan.
Terkadang orang yang benar-benar tulus dan lurus hati serta lurus niatnya tidak begitu banyak berkata-kata, mereka menunjukkan dengan kerja keras, melakukan kewajiban dengan sungguh-sungguh dan secara tidak langsung berusaha memberikan kenyamanan dan ketersediaan kebutuhan dalam rumah tangga. Karena begitu kompleks, pria menunjukkan kesederhanaan di balik pemikirannya yang begitu rumit untuk memenuhi kewajibannya sebagai pencari nafkah dan pemimpin keluarga.
Lelah memang, namun pria dituntut sebagai penyedia ekonomi dan penyedia kasih sayang secara emosional yang padahal lebih dominan logikanya, sehingga terdengar begitu sulit menjadi pria bukan? Maka sebagai pasangannya, dukungan akan menjadi sumber tenaga yang baik untuk rutinitasnya.
Pria akan menjadi luar biasa bersemangat ketika pujian dan kata manis datang pada telinganya. Hidangan enak hadir di hadapannya beserta senyum yang indah menghiasi hari-harinya. Namun wanita kadang begitu menjaga harga dirinya, menuntut banyak darinya, dan mematahkan motivasinya serta secara tidak langsung merendahkannya. Hal ini yang menjadi awal keretakan rumah tangga yang tidak pernah diduga.
Bisa kita coba untuk saling menghargai terlebih dahulu. Apapun yang dilakukannya, apapun yang diusahakannya adalah buah kasih sayang yang luar biasa darinya. Selalu peduli saat ia terpuruk dan selalu mengingatkan untuk menyadari dan memperbaiki khilafnya. Tidak mudah memang, namun bila bisa dipertahankan kenapa harus berpisah? Bila kesalahannya berulang dan tidak dapat diperbaiki kefatalannya, mau tidak mau harus benar-benar mencari dan mengambil jalan terbaik. Walau kadang jalan buntuh atau bahkan perpisahan. Namun entah sesusah apa, usaha pasti membuahkan hasil. Ketika masih tetap pada fitrahnya untuk menjalani semua sampai akhir, itu adalah sebuah kemenangan.