Senin, 25 Mei 2026

Nyatanya

Ya, nyatanya aku kurang teliti. Kamu bukan covert narsisist, hanya saja sikap avoidant-mu itu mengarah ke covert sehingga dapat ku katakan kamu adalah seorang covert avoidant. Entahlah namun spekulasi ini menerka-nerka ke arah sana. Dibilang narsisist tidak cocok, karena kamu tidak kejam. Hanya saja caramu menarik diri dari tanggjawab dan kedekatan secara emosional sangat mirip dengan seorang avoidant. Sedangkan caramu memanipulasi dan hanya mau merespon pada hal-hal tertentu sangat mirip dengan narsisis.

Pertanyaanku yang dulu seakan terjawab satu persatu. Kamu menyukai dua hal, satu kaktus, dan satu lagi adalah bintang. Real-self-mu adalah kaktus, kamu berduri berbahaya, dingin, namun menjaring air dengan akar yang sangat panjang dan menyebar. Hal ini aku temukan sebagai caramu mencari orang-orang dalam memenuhi validasi egomu. Kamu menyebar umpan secara acak, rendom, lalu ikan atau orang yang memakan umpanmu akan kamu jadikan objek bahkan supply untuk memberi makan egomu.

Namun, saat kamu bertanggungjawab, dan pada akhirnya kamu bisa lari dari itu, kamu mengatakan padaku bahwa kamu merasa bersalah. Aku tau hal itu menghantuimu seumur hidup, dan untuk mengalihkannya kamu bermain-main dengan supply-supply yang sudah kamu rawat. Dan ketika supply-supply baru itu merasa ada yang aneh dan pergi darimu, kamu menyedot (hoovering) lagi. Bila ku ingat kamu mencariku tiap tahunnya, entah itu hanya tes ombak, atau memang kamu benar-benar membutuhkanku. Namun aku akhirnya menemukan pola yang sama selama bertahun-tahun ini.

Semua ini aku analisa satu per satu. Mungkin aku menebak bahwa sikapmu yang dingin dan menganggap bahwa ketika prestasi ada maka akan diberi kasih sayang, bila tidak ada ya tidak dipedulikan merupakah sikap yang diajarkan sedari dini oleh pola asuh. Entahlah, dan kecenderungan atau sedikit sikap narsisis ini timbul sebagai hasil dari pengagungan atas prestasi yang didapat selama ini. Kamu belajar dan mengamati bahwa orang lain mengagungkan kamu karena prestasi dan segala kelebihanmu. Kamu menjadi terbiasa akan segala validasi eksternal itu semenjak kecil sehingga ketika dewasa kamu akan selalu haus untuk diberi validasi oleh lingkunganmu. Saat kamu tak mendapatkannya, kamu akan mencarinya dari supply-supply yang memang benar-benar memberikan validasi untuk egomu yang haus dan lapar.

Aku tau kamu tidak sadar telah melakukan pola ini, namun kamu memahami ini sebagai taktik supaya seseorang yang mengenalmu hanya tau permukaanmu saja sebagai bintang yang bersinar, mereka yang terlalu dekat akan kamu hindari dan kamu beri silent treatment seakan kamu misterius padahal sebetulnya kamu takut mereka akan tau dirimu yang sebenarnya begitu rapuh dan rentan serta tak percaya diri dan sangat takut akan penolakan. Kamu takut mereka memahami bahwa kamu sebenarnya hanyalah kaktus yang daunnya tajam berduri membahayakan orang lain. Maka dari itu supply-mu kebanyakan merupakan orang-orang yang tinggi empati karena merasa kasian padamu, karena kamu menjual cerita menyedihkan seperti kesepian dan diabaikan, walau kamu menggunakannya untuk mengait supply, alih-alih sebagai umpan, hal tersebut merupakan kenyataan bahwa dirimu yang sebenarnya memang benar-benar kesepian walau sudah ada yang menemani. Karena kamu tidak bisa berempati, jadi setiap orang yang bersamamu kamu anggap pelengkap dan objek saja, jadi kehadiran mereka tidak benar-benar berarti karena kamu hanya membutuhkan pujian dan validasi dari mereka saja, dan tidak menerima kehidupan pribadi dan diri mereka sebagai manusia utuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar