Sejauh ini masalahnya adalah belum mampu menyadari apa yang benar-benar penting dalam kehidupan seseorang. Setiap orang pun berbeda-beda keadaannya, berbeda kebutuhannya, berbeda tujuannya. Untuk itu, apa yang benar-benar penting bagi seseorang pun pasti berbeda antara satu orang dan orang lainnya.
Meyakini bahwa setiap orang juga punya masalah dan persoalannya masing-masing. Sehingga apapun yang terjadi pada diri sekarang berupa hujan, badai, banjir emosi adalah hal yang wajar. Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengelolanya. Persoalan sepele dapat menjadi masalah yang sesaat bisa berubah menjadi konflik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain bahkan dapat berkembang menjadi konflik yang dihadapkan dengan masyarakat.
Sekolah akan selalu mengajarkan ilmu hitung, sosial, ekonomi, sosial, hingga pengembangan bakat. Namun apakah pengelolaan emosi dan konflik diajarkan di sekolah? Tidak membebankan pada tenaga pendidik, namun lagi-lagi support system terkecil yakni keluarga sangat berperan dalam hal ini. Keluarga yang baik, yang harmonis, mereka dapat memberikan banyak kasih sayang yang otomatis membangun rasa percaya diri, rasa empati, dan manajemen emosi yang baik pada anak. Kita pun tahu, tidak semua keluarga harmonis, tidak semua keluarga baik dalam memberikan pengalaman emosional pada anak. Bahkan ada pula yang sepertinya dalam keluarga baik-baik saja namun seorang anak dapat menyimpan banyak beban dalam hatinya.
Mari kita bergandeng tangan, menjadi orang tua yang baik, menjadi teman yang baik, menjadi pendidik yang baik, menjadi pemerintah yang baik, menjadi pemimpin yang baik. Sesuatu yang dimulai dengan kebaikan akan menghasilkan hal yang baik pula. Bila hasilnya kurang atau tidak baik, maka apa saja yang harus diperbaiki mari kita lakukan.
Sayangnya setelah dewasa baru menyadari bahwa latihan manajemen emosi benar-benar berguna. Namun belajar dari kehidupan adalah hal yang terbaik untuk tetap bertahan hingga saat ini. Entah ada berapa pikiran buruk tentang diri sendiri dan orang lain sehingga timbul keinginan untuk bertindak yang tidak sewajarnya.
Guru pernah mengatakan, "Cintai apa yang kau cintai, maka kau akan kehilangannya." Benar saja, semua yang dicintai akan menghilang pada akhirnya. Kesimpulannya, semua berusaha untuk melakukan kebaikan sesuai porsinya saja. Seperti makan, jika kita hanya mampu makan satu porsi atau satu piring saja, tidak mungkin bagi kita untuk makan dua piring sekaligus bukan?
Semua persoalan ini muncul dengan alasan tertentu, dan mungkin salah satunya kita "dholim" atau tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Untuk itu diberadakan aturan supaya kita paham berapa porsi dalam setiap hal yang harus kita lakukan, kita terima, dan harus kita berikan.
Harapan dan cita-cita adalah tujuan, bukan hasil yang kita minta tanpa usaha dan ikhtiar. Terkadang permasalahan itu adalah jatuhnya kita pada tingginya harapan yang tidak rasional, tidak sepadan dengan usaha, namun kecewa karena begitu kita paksakan mendapatkan apa yang kita inginkan padahal sedikit sekali apa yang kita lakukan.
Berusaha menuju tujuan itu sangat membahagiakan, menikmati proses adalah kenikmatan luar biasa.Dapat merasakannya adalah anugrah yang tak tergantikan. Memang pilihannya ada tiga, bertindak buruk, diam, atau bertindak baik. Mengetahui apa tindakan terbaik yang dapat kita lakukan adalah awal yang baik. Sampai hal itu menjadi tindakan yang nyata adalah keselamatan bagi diri kita dan memberikan dampak yang baik pula bagi cakupan yang lebih luas. Satu kebaikan kita akan berguna untuk orang lain, masyarakat, dan negara. Berbesar hati karena melakukan satu kebaikan dan jangan dibandingkan dengan kebaikan yang begitu besar yang dilakukan orang lain. Jangan membuat diri kita begitu kecil di hadapan orang lain. Sebab tiap orang punya perjalanan yang berbeda, pengalaman berbeda, dan kecerdasan yang berbeda.
Sekali lagi, menyadari bahwa diri kita berharga, berarti, dan bermakna adalah bahan bakar yang baik untuk memulai suatu kebaikan. Karena dengan satu kebaikan yang kita lakukan, akan menimbulkan kebaikan lainnya seperti bola yang memantul. Hal itu memiliki efek domino. Ketidakbaikan pun juga sama, efek dominonya menimbulkan berbagai dilema, kegelisahan, hingga gangguan psikologis pada mereka yang tak mampu memanajemen dirinya dengan baik.
Menjadi orang baik memang tidak mudah. Namun selama kita bisa berkata yang baik, bisa bersikap baik, berprasangka baik, serta dapat memilih tidakan yang terbaik sesuai keadaan kita adalah hal yang sangat berarti bagi keselamatan umat. Kita memang tidak dapat selalu baik kepada orang lain. Apakah setiap orang yang membutuhkan pertolongan kita selalu kita beri pertolongan? Belum tentu, karena kita memunyai keadaan, keterbatasan, dan kepentingan sendiri. Namun kita bisa menolak dengan cara yang baik, dengan kata yang sopan, dan mendoakan yang baik. Berbuat baik tidak selalu dengan tindakan yang sesuai dengan harapan orang lain. Namun sikap yang kita berikan yang menentukan apakah kita mampu menjadikan setiap persoalan itu menjadi kebaikan.
Pandangan orang lain memang berbeda-beda. Tidak masalah bagi kita untuk memberikan pendapat yang berbeda pula, namun dengan kata yang baik dan sopan. Apapun itu, pasti tujuan baik adalah latar belakang pada setiap tindakannya.
Sungguh aku baru menyadarinya saat mengetik semua tulisan ini.
Hanya ada seyuman malam ini yang mengantarku pada lelap tidur malamku. Terima kasih siapapun kalian yang menjadi inspirasiku. Semoga kita semua bahagia dunia akhirat. Aaamiin.