Saat kamu membaca semua ini, kamu akan merasa aku adalah jiwa yang berbelit-belit dan tak mudah memberi keputusan. Ya, kamu mengenalku. Aku yang berkali-kali berubah pikiran dan berubah haluan. Sesekali menilainya baik, namun sesekali menilainya buruk. Entah lebih banyak mananya kamu nilai sendiri.
Aku tak menyudutkannya, barangkali tulisan ini hiperbola atau dilebih-lebihkan. Jari-jariku hanya mengetik begitu saja. Taukah kamu? Manusia memang begini. Sepersekian detik mempu mengubah arah perjalanannya dan mengubah penilaiannya.
Puaskan membaca ini sebagai pemebelajaran. Buruk baiknya tertulis apa adanya. Walaupun burukku tak kutulis sejelas itu. Mengira bahwa diri ini suci? Salah. Sama saja, dosa dan derita juga sama. Hanya saja aku menyembunyikanku dari tulisanku dan menjadikannya objek terlebih belasan tahun ini masih seperti itu. Padahal pawang kami juga begitu kuat, dan ada saja bagian dari diri kami yang ingin keluar melihat-lihat.
Ya begitulah manusia pada umumnya. Ketahuilah dunia ini hanya tempat salah dan dosa. Siapa saja bisa berdosa, siapa saja bisa bersalah, mau berubah atau begini-begini saja. Semua ada pada jalan masing-masing. Aku dan kamu serta dia tak dapat mengubah satu sama lain. Hanya diri sendiri yang mampu menyelesaikannya.
Kamu tau? Dia masih memegang kendali, terkadang dia datang untuk memastikan apakah serat-serat takterlihat ini masih menggerakkan tubuhku sesuai keinginannya atau tidak. Dia akan terus menyaksikan, mengamati, dan memastikan bahwa jiwaku akan selalu terjerat oleh jaring-jaring halus miliknya.
Ingat, bahwa aku hingga kini masih tertipu oleh kata-katanya, sorot matanya, dan tangannya. Jangan khawatir, kami sudah memainkan peran ini bertahun-tahun dan telah hafal apa saja peraturan mainnya. Kami tak kan terjerumus, kami hanya sedang bercanda tentang dunia yang takdirnya di luar kendali ini.
Kamu, harusnya tidak memainkan ini. Kamu harusnya belajar memastikan setiap gerak-gerik orang yang mencurigakan dan acak seperti dia. Kamu hiduplah lebih baik, belajarlah untuk tidak mendekati orang seperti dia. Kuatlah, supaya tak menjadi bonekanya.
Dan berbahagialan akan cinta yang tenang dan cukup. Bukan bahagia atas cinta yang luber namun timbul dan hilang di waktu yang singkat. Bedakan cinta yang sebenarnya tulus dan hanya ada maunya saja. Kamu harus jeli menapaki seseorang yang mencintaimu. Bila ia terus memeberikan cinta yang luar biasa hebat dan banyak namun juga memberi sekaligus rasa sakit dan luka yang banyak pula maka ia bukanlah orang yang tepat berada di hidupmu.
Ingatlah, aku sudah mengingatkanmu. Aku harap kamu mendengar dan melakukannya. Bukan hanya sekedar dibaca dan mengetahuinya saja. Atasi masalahmu dengan berani dan tangguh. Temui temanmu yang mampu menguatkanmu tanpa dia. Yakinlah hatimu akan sembuh seiring waktu yang berjalan walau tidak singkat namun melambat.
Menarilah bila kamu ingin menari, ambil kain itu dan mulailah mengayunkannya. Biarkan ia terhempas angin dan berputar seakan membuang semua rasa dan luka darinya. Bernyanyilah seakan kamu memakinya, serta menendanglah bila kamu sudah muak dengan semua ini. Bayangannya yang samar dan kabur, hantam saja lah. Pedang yang tajam yang sudah kamu asah jangan pernah kamu sia-siakan. Belah tubuhnya menjadi berkeping-keping dalam imajimu. Dan nyatanya ia hanyalah mayat hidup tanpa perasaan yang kamu asuh bertahun-tahun. Membunuh nyawamu, meninggalkan dirimu yang juga mayat tak berwajah.
Sudahlah, menyandarlah pada bahuku. Urailah emosimu menjadi healing terbaikmu. Aku akan ada di sini memelukmu erat. Membisikkan kata-kata hidup pada jiwamu yang telah mati. Cintai kehidupanmu setelah ini dengan lebih baik. Aku yakin, nyanyian dan tarianmu sudah cukup mewakili kekecewaanmu. Biarkan ia terbang melepas belenggu jiwanya. Pergi atau pun tidak, ia tak kan peduli. Karena sejatinya hatinya telah mati rasa, matanya sudah buram serta tanggannya sudah lama tak berada pada raga aslinya. Dia hanya boneka atas dirinya sendiri. Dia diperbudak oleh mati rasanya sendiri. Memberikan rasa yang dia sendiri tak mengerti untuk apa. Ketahuilan bertahun-tahun mengenalnya bukan sebuah kebaikan yang harus diingat seumur hidup melainkan ujian yang hanya dibaca lalu terlupa begitu saja.
Waktu ini masih panjang, ingatlah dia hanya simbol ilusi dan mimpi semu. Yakinkan dirimu bahwa ia hanya menampilkan bayangannya. Sedang dirinya sendiri sedang bersembunyi dalam kegelapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar