Aku tahu, ini bukan cinta, juga bukan kasih sayang. Hanya menyukai citra sempurna, walau ada sedikit iba. Kamu sempurna di mataku sekaligus menyedihkan. Kamu membuat orang-orang mengagumimu, namun tidak semua orang mampu mendengarkan jerit permintaan tolong darimu.
Aku mendengarnya dan bahkan kamu mengakuinya. Kamu pernah berkata seperti menjadi burung yang berkicau di tengah-tengah keramaian. Tak ada yang mendengarmu dan tak ada yang peduli denganmu. Namun bayangkan! Aku mampu mendengarkan kicauanmu, aku mampu melihat warna sayapmu, dan aku mampu mengobati lukamu. Dan lambat-laun kusadari bahwa bukan hanya aku yang terjebak di dalam kondisi yang sudah kamu rancang ini.
Aku pun menyadari kenapa tak ada yang mendengarkanmu. Karena kamu berbeda. Kamu tercipta tak sama. Kamu terlalu abu-abu untuk orang-orang yang hitam atau putih. Kamu sudah terlalu lama terluka karena emosi sejatimu terabaikan.
Aku tahu, selama ini keinginanmu tak didengar, temanmu sedikit, kau terpenjara di ekspektasi tinggi seseorang. Kamu menjadi aspek yang ditinggikan sampai kemauanmu sendiri terabaikan. Dan sampai sekarang kamu tidak tahu apa yang benar-benar membuatmu bahagia. Kamu merasa kurang atas apa yang kamu dapatkan. Kamu merasa tak pernah cukup mendapat cinta dari seseorang. Karena selama ini kamu tak tahu apa dan bagaimana cinta kasih yang sesungguhnya tulus. Walaupun bagi seseorang itu, selama ini kamu telah bergelimang kasih-sayang. Padahal kamu menganggap itu adalah jeratan dan penjara yang bersembunyi di balik kata perlindungan. Kamu tak pernah berontak, kamu hanya penurut, kamu hanya ingin terlepas pelan-pelan, dan akhirnya kamu kini berhasil. Kamu bebas!
Sayangnya, keberhasilanmu untuk bebas bukanlah akhir dari perjuanganmu. Kamu masih ingin menjadi liar dengan diam-diam. Kamu belum cukup bahagia hanya dengan melepas belenggu rantai emosi sejatimu. Kamu menjadi rakus dan serakah akan kuasa untuk mengendalikan perasaan mereka. Kamu haus akan pengakuan mereka. Kamu butuh didambakan oleh mereka, dan kamu sama sekali tak mampu melepas mereka, serta tak mampu pergi darinya. Kamu menata perasaan mereka bak buku di rak-rak dengan waktu dan keadaan yang kau inginkan. Jika kamu membutuhkan keuntungan materi, kamu akan membuka buku perasaan yang paling atas, dan jika kamu menginginkan keuntungan emosi maka kamu membuka buku perasaan di rak paling bawah. Aku malah melihat kamu bak pengamen, mendatangi rumah-rumah, bila tak diberi uang kamu pergi, bila diberi uang kamu berhenti sejenak dan mengingat rumah itu untuk datang lagi di kemudian hari. Kamu memberi jarak dan menggambarkan citra diri yang misterius.
Kamu berbeda. Kamu tidak memiliki rasa bersalah sesaat setelah meninggalkan begitu lama kemudian tiba-tiba datang. Kamu juga tanpa rasa sungkan tiba-tiba pergi begitu saja sesaat setelah memberikan kata-kata manis yang disebut love-bombing dari satu rak ke rak yang lain, dari satu buku perasaan ke buku perasaan lain. Kamu memilih untuk memaikai buku yang mana untuk disedot energi dan validasinya sesuai kebutuhanmu. Kamu hanya berpura-pura empati dan menjual kesedihan untuk menjerat mangsamu, membiarkan buku-buku baru terjebak dan terjerat di antara tumpukan rakmu yang penat dan sesak. Terkadang kamu akan mencoba-coba untuk mencari buku baru pengisi rakmu yang kosong.
Hei sebenarnya, kamu kesepian dan rapuh dibanding siapapun! Kamu hanya senang dipuji, didambakan, diidamkan dan sangat haus serta lapar akan pengakuan. Kamu tak mau melepaskan satu pun hal yang sudah terpajang di rak bukumu. Padahal buku-buku itu hanya menunggu untuk kamu baca, namun tak satupun kamu membacanya. Kamu hanya mengambil buku acak kemudian menggunakannya sebagai ganjal kursi, sebagai alas piring makan, sebagai alas coret-coretK. Kamu tidak benar-benar mengenal mereka secara mendalam. Kamu takut terikat secara emosional dengan mereka para empath. Kamu memanfaatkan rasa iba untuk membawa mereka dalam arena permainan tarik-ulur dan jungkat-jungkit emosi & teka-teki perasaanmu. Membuat mereka bertanya-tanya kamu kenapa? Setelah berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun menghilang tanpa berpamintan, tiba-tiba hadir tanpa permisi mengacak-acak emosi seseorang. Mereka yang sadar bahwa awalnya sebelum kehadiranmu dirinya baik-baik saja, namun setelah kehadiranmu, mereka merasa dirinya tidak baik-baik saja akibat permainan ego-mu. Ada yang sampai gila, kehilangan jati diri, ada juga yang diam dan bertanya-tanya. Sebenarnya kamu kenapa? Kamu itu apa? Kamu kotak kosong atau kotak yang di dalamnya berisi benang yang ruwet dan sudah tak dapat diuraikan lagi?
Semakin mengenalmu dan memahamimu, kini aku mampu menjawab dan menemukan siapa dirimu sebenarnya. Kamu berbeda dari manusia kebanyakan. Kamu mengalami penyimpangan baik di otak secara berpikir maupun di perilakumu. Kamu membutuhkan bahan bakar untuk mengisi tangki ego yang tak pernah penuh dalam benakmu. Kamu membutuhkan banyak orang normal untuk menjadi pengikut yang setia dan selalu melihatmu seperti orang yang sempurna. Kesempurnaan yang kamu tampilkan di permukaan adalah ibarat sebuah kotak yang indah dengan warnanya yang mencolok dan bentuk yang unik, siapapun melihatmu ingin memilikimu. Sedangkan kamu seakan menjanjikan kepemilikan kepada setiap orang yang menginginkanmu. Kamu tidak benar-benar memilih satu untuk memilikimu. Kamu memberi janji manis bahwa suatu saat satu persatu dari mereka bisa kok memilikimu. Ah ternyata kamu sangat murahan!
Dan segala upaya yang kamu lakukan itu tidak lain halnya karena kamu hanya sebuah kotak kosong! Kamu kesepian, sendirian, terabaikan, tak dipedulikan, tak ada yang benar-benar paham di mana letak hatimu berada. Sehingga kamu takut disakiti, takut tak dicintai sepenuh hati, takut perasaanmu tak sepadan, takut cintamu bertepuk sebelah tangan. Jadi, sebelum kamu tersakiti, kamu menyakiti terlebih dulu. Sebelum kamu ditinggalkan, kamu meninggalkan terlebih dulu. Sebelum kamu menangis, kamu buat seseorang menangis terlebih dulu. Dan setelah kamu berhasil membuat seseorang menangis dan merasakan kehilangan lebih dari yang kamu rasakan, bahkan lebih parah darimu, kamu pun tertawa, kamu tersenyum, kamu bangga, dan kamu bahagia mengetahui bahwa seseorang telah benar-benar tak bisa hidup tanpamu. Kamu sendiri lebih gila daripada korbanmu!
Kamulah racun yang seolah-olah membawakan obat penawarnya di saat itu juga. Seakan kamu mendorong buku itu sampai jatuh, dan menangkapnya sebelum menyentuh lantai. Kamu memberikan trauma bonding yang melekat, adiktif, dan membuat sakau bila kamu menghilang. Kamu memanfaatkan perasaan yang tulus mencintaimu hanya untuk melihat apakah mereka terjebak atau tidak. Bila mereka telah terjebak, kamu akan menarik ulur hatinya, memainkan perasaannya, tidak memperdulikan tangisan bahkan rintihannya. Kamu merasa menang akan kuasa mengendalikan perasaan seseorang. Kamu berteriak hore di atas derita seseorang yang telah terluka karena jungkat jungkit emosi yang kamu mainkan. Kamu hanya memberi kata-kata manis tanpa pembuktian, kamu menceritakan kesamaan yang memang telah kamu rencanakan untuk mendapatkan empati dan harapan kesetiaan. Kamu memutar perasaan di ujung tebing dan mendorong seseorang untuk terjun tanpa syarat dengan pertanyaan, "Kenapa kamu menjatuhkanku?" Lalu tanpa rasa bersalah telah menjatuhkan, dan sambil menangkap tubuh itu dari bawah kamu menjawab, "Untuk menyelamatkanmu!" Inilah kondisi yang kamu inginkan, berlaga baik untuk diterima namun menunggunakan cara yang salah.
Luar biasa drama dan sandiwara yang kamu mainkan. Seolah kamu menguasai dan mengendalikan permainan. Luar biasa!!! Menyalahgunakan kejeniusan otakmu hanya untuk membuat permainan sakit hati yang bertubi-tubi saling menghancurkan ini. Mereka hancur berkeping-keping karena trauma bonding dan kamu hancur karena lama-kelamaan hatimu mati sehingga tak kan ada seorangpun suatu saat nanti yang bisa menerimamu apa adanya dan tiada yang bisa menemani dengan tulus di seumur hidupmu. Kamu hidup dalam kepalsuan, ketakutan, dan ketidakpercayaan. Kamu memberi banyak tes untuk orang yang ada di dekatmu, memastikan mereka masih mampu kamu kendalikan. Kamu menciptakan ruang dimana hanya kamu yang bisa mengendalikannya. Ada tombol ego, emosi, dan pengabaian. Kamu akan hidup di dalam bayangan sempurna yang kamu ciptakan sendiri. Dan sampai kamu mati dan semua ini berakhir, baru kamu sadar bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini seperti yang kamu gambarkan dalam permainanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar