Kamis, 28 Maret 2024

Aku tidak percaya dan sangat kesal

Sejauh ini yang kutahu, kita bahagia dengan apapun yang dimiliki.

Sejauh ini yang kupahami adalah menerima semua yang ada di hadapan kita. 

Selama ini, aku mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar hilang maupun benar-benar datang.

Semua hanya berlalu-lalang.

Tapi apakah aku sekuat itu? Tidak. Lemahnya diriku karena bagiku membutuhkanmu.

Seperti tak percaya. Hiruk pikuk semua ini masih tak bisa membuatku hilang darimu.

Kebahagiaan yang jelas kulihat, juga tak mampu membuatmu hilang dariku.

Apa karena kita terlalu lama berada di tempat yang sama?

Hei, kamu bisa tersenyum lebar. Dan masih teringat bahwa senyum yang kau berikan untuk semua orang telah menyinari wajahmu dengan begitu terang. 

Lalu apa? Aku tak berharap, walaupun aku selalu ada. Walaupun bukan aku waktu itu yang ada untuk menjadi sandaranmu.

Dan telah kusadari bahwa, bersandar pada orang lain hanya akan membuatku lemah karena selalu kecewa.

Dan ketika aku bersandar pada diri sendiri, aku terlihat sangat gila, lebih kecewa lagi dan hampir tak mampu memaafkan diri sendiri.

Lalu siapa lagi yang mampu menenangkanku?

Saat pertanyaan itu muncul, hanya selalu teringat akan namamu.

Entah.. Hal apakah ini. Padahal bukan kamu yang kulihat setiap hari. Padahal bukan dirimu yang ada untuk memberi penghidupan bagiku. Bukan kamu, bukan kamu, tapi lagi lagi kenapa kamu yang selalu muncul dalam benakku, dalam mimpiku.

Aku marah, pada diriku, juga padamu. 

Aku ingin pergi, namun selalu gagal. Kau memenuhi bayangan itu. 

Dan setiap rembulan bersinar terang, hanya membuatku sangat kesal, karena bukan dia yang kulihat. Tapi kamu, lagi-lagi kamu. 

Aku marah pada diriku, kenapa begitu lama berputar-putar di sekelilingmu padahal bukan aku yang menjadi pemberhentianmu. 

Apakah pernah kamu marah padaku karena aku yang selalu begitu?

Sadar.. 

Teman tak kan saling meninggalkan. 

Aku ingat, kita telah sepakat bahwa teman akan selalu ada. Tapi apakah kita bisa hanya menjadi teman saja?

Aku tau, teman harus bertindak benar, aku tau, teman harus saling menolong.

Tapi ku merasa dengan pertolonganmu sama saja aku menjerumuskan diriku, walaupun aku benar-benar menginginkannya. 

Kenapa semua ini menjadi begitu rumit?

Nurani dan logikaku bertengkar di dalam diriku.

Aku paham, mungkin karena bukan Allah yang menjadi tempatku bersandar. 

Bukan Allah yang menjadi ujung dari harapanku sekarang. 

Dan karenamu, aku ingat siapa yang harus aku mintai pertolongan. Aku berterima kasih padamu, karena membuatku mengingatNya kembali.

Semoga hari-harimu menyenangkan.

Doa dari setiap orang yang telah kita tolong akan menjadi obat mujarab saat kita berpikir bahwa kita adalah orang yang paling buruk saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar