Aku melihatmu dengan artis A, menikah dengannya? Lalu aku yang kedua. Di situ ia terlalu lelah setelah mengisi acara dengan gaun dan bunga yang sangat indah. Kamu memijatnya dengan minyak G yang tidak cocok di kulitnya. Ia merasa gatal dan merah-merah pada kulitnya. Tiba-tiba para kecoa (kecil) pun ingin berfoto dengannya. Lalu akan hujan, adikmu ingin segera melanjutkan perjalanan, tapi tak bisa, hujan, pakaian basah dan aku harus menepikannya. Tandon tertukar antara yang besar dan yang kecil tidak sesuai tempatnya. Dan banyak timba menampung yang air hujan yang melimpah setelah kemarau panjang.
Kemudian tiba-tiba ada orang tak dikenal ingin menerobos ruang artis (ruangan yang tadi di awal). Aku berkata sedang apa, mau mencari berita atau berencana berbuat kurang baik? Yang ternyata berjualan wajan berbagai jenis ukuran. Saat aku menoleh ke artis W, dia seketika mendekapnya dan merekam dari belakang. Apa maksudnya? Ingin mengancam menyebarkan rekaman itu? Bukannya hanya untuk suka-suka. Team datang dan menyuruh hapus rekaman. Setelah itu, terlihat tidak meyakinkan dan akhirnya kukejar sampai dia menjadi kecil, dan tiap rumput yang dipijak menjadi api. Anak-anak kecil di luar rumah kuteriaki untuk masuk karena banyak orang-orang ingin berbuat kurang baik sedang berkeliaran. Kupadamkan api, dan anak-anak juga memadamkannya dengan air got. Kemudian masuk ke rumahnya masing-masing.
Sampai jadi mengecil seperti boneka sumo. Sepertinya sesaat setelah itu, ia mungkin sudah mawas diri. Kembali mendapatkan kebebasannya dengan menjadi kamera-man bersama salah satu orang yang menurutku lebih aneh dengan tato dan gondrong ditalu ke belakang yang sepertinya sama-sama suka serta saling jaga.
Sampai aku merasa berada di kota S, kemudian menyeberangi samudra melewati jembatan ke Pulau M. Sampai di pulau M, banyak sekali truk terguling dengan muatan yang dibiarkan begitu saja. Orang-orang melewatinya dengan biasa, pakai motor dan jalan seperti biasa melewatinya ke atas. Pemotor gede membonceng banyak anak berseragam sekolah untuk melewatinya. Ibu-ibu bergamis putih juga melewatinya dengan biasa. Kakiku terasa agak sakit saat melewati muatan keramik yang sudah berupa remukan. Namun melihat ujung yang tak ada habisnya, kuputuskan kembali. Di jalan sedang senja adzan maghrib. Bingung kemana jalan sebelumnya. Aku melihat ada 3 cabang jalan. Ada masjid, musholla, dan bangunan-bangunan rumah lainnya.
Di masjid orang-orang (bukan anak-anak) beribadah pada umumnya, di musholla banyak anak-anak berkumpul, mereka memakai blangkon, beskap, kebaya, dan gelungan. Di tengah semua bangunan terdapat taman luas yang dapat melihat ke segala arah. Di sana ada dia yang bersama dia, dia yang satunya membakar besi panjang, setelah panas, besi itu diletakkan di lengannya yang satunya. Membentuk tanda hitam menindih tato yang terdahulu di kulitnya. Untuk apa? Masokis? Entah sebagai tanda apa. Sedangkan ada dia yang wajahnya imut (seperti cupid ABG tapi berpenampilan masa kini, kaos bolong hitam dengan rambut agak keriting pirang yang dibiarkan berantakan) menatapku dengan sangat lama tanpa berkedip. Apa maksudnya? Siapakah dia?
Lalu aku terbangun dari mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar