Aku berteriak
Aku menangis
Sesenggukan menahan riak riuh pada hidung dan tenggorokan.
Apa kau tau? Sebesar apapun pengorbanan tak juga membuat hati luluh
Entah apa ini
Aku memprotes sistem limbikku
Karena tak berfungsi dengan semestinya
Lalu berkali-kali aku memanggilmu
Dalam tuli, siapapun tak mendengar
Suaraku pun tak mampu menjangkaumu
Sesekali mata batin kita terhubung
Atau hanya perasaanku
Mata kita pernah bertemu
Namun semua hanya biasa saja
Sedang anganku meronta-ronta menginginkan itu
Bisakah? Bisakah kita tidak pernah ada
Bisakah semua itu hilang dari ingatan
Bisakah semua pergi tanpa interupsi
Ah.. Kesal rasanya
Lalu bagaimana dengan hari itu
Hari dimana dia kau panggil
Hari dimana kau tak berdoa apa yang terbaik yang harus dilakukan
Memperbolehkan seenaknya menganggap bahwa setiap detik akan hilang dengan setiap detik berikutnya
Kau munafikkan dirimu sendiri
Mungkin memang harusnya begini
Karena tak ada bahagia yang sesempurna itu
Dan tak ada keindahan yang tidak cacat bukan
Hingga cacatmu diterima olehnya
Lalu tak ada jalan untuk melarikan diri
Terjebak dalam permainan sendiri
Merasakan akibat dari kesalahan memprediksi
Hingga ketulusan tak nampak di lubuk hati
Semua berubah menjadi segumpal tanggungjawab yang menggerogoti
Adakah, adakah cinta yang hakiki?
Yang mampu menggetarkan hati
Tulus semurni mata air dari atas memberkahi
Masih kucari dalam perjalanan ini
Ketulusanku, kecintaanku, keinginanku, dan obsesiku
Aku yakin kamu pun tak akan pernah melupakanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar