Jangan kau tanyakan bagaimana aku begitu mengingkanmu. Rasa yang begitu tak dapat dikendalikan. Bagai kupu-kupu yang terbang bersamaan. Andai pertemuan bisa direncanakan dengan lebih baik. Atau lebih baik percaya pada takdir yang mempertemukan?
Apa kabarmu hingga hari ini? Lagi-lagi kau tak membaca pesanku di waktu ketersediaanku. Atau kamu sengaja tak membacanya padahal sudah masuk pada notifikasimu?
Aku tak ingin mempertanyakannya lagi. Dan lagi-lagi kuakui, rasa rindu ini sering datang tiba-tiba. Kutolak dengan logikaku, namun perasaanku tak dapat mendustainya. Lalu harus bagaimana? Bukankah ini hanya placebo? Serasa tenang menelannya, walau tak ada zat khasiat di dalamnya.
Mungkin semua telah berlalu. Namun mata ini selalu memandang tempat dan jalan yang sama. Sungguh siksaan atau berkesan? lalu bagaimana denganmu? Apa juga merasakan hal yang sama?
Tak lagi sedih saat ini. Mensyukurinya saja karena pernah ada, pernah berada di jalan yang sama. Yang saat ini tujuan berbeda jauh. Bedanya, sebelumnya akan marah saat merasakannya, sekarang lebih damai saat mengingatnya. Mau bagaimana lagi? hanya pemberian, yang mungkin hanya pinjaman yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh pemiliknya. Tak seharusnya mempermasalahkan kapan akan diputar ulang oleh otak.
Cukup aku yang tau, rasanya, berusaha tapi tak mendapatkan. Berharap tapi dikecewakan, walau itu rasa terbaik, yang semakin diputar, semakin berdebar. Selama ini, hanya itu yang mampu. Semoga tidak ada yang sepertiku. Meratapi kesalahan seumur hidup, berharap suatu saat ada yang dapat membuat jantungku berdetak cepat. Menggetarkan perasaanku sedemikian hingga sesak nafas ini. Semoga di kehidupan selanjutnya akan menemukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar