Membuat perasaan perempuan yang sesitif menjadi meledak-ledak, apalagi ketika kita bersamaan dengan waktu datangnya bulan kita. Semua seperti salah di mata kita.
Hai laki-laki, sosok penyabar..
Terkadang kalian terlihat sangat tidak mengerti sisi perempuan, tapi justru hal itu lah, yang kalian lakukan adalah yang memang kami dambakan.
Aku kira, seorang laki-laki hanya berjalan dengan logika tanpa perasaan..
Atau mungkin aku memang salah. Mereka berjalan bersamaan pada dirinya. Menyelaraskan, seakan tak kentara perasaannya, lebih dominan pemikirannya, namun yang mereka lakukan adalah upaya minimalisasi meledaknya keadaan berikutnya.
Aku kira, sebagai wanita, aku adalah orang yang lebih dewasa dibanding denganmu wahai kekasihku.
Lagi-lagi aku kalah telak denganmu. Aku tidak lebih dari gadis yang seperti anak kecil. Iya, aku layaknya bocah yang masih ingin bermain pasir dan melompat serta membangun istana kemudian memainkan seakan-akan kita telah hidup di sana begitu lama.
Wahai perempuan, kita diberi laki-laki kuat dengan sepenuh hatinya. Mengorbankan segalanya demi perempuan yang dicintainya, yaitu Ibunya. Aku sendiri tak pernah berpikir untuk begitu dipedulikan, namun terkadang perasaan yang berlebihan bermunculan. Oh kekasihku, sungguh menjadi seorang gadis yang anggun sangatlah susah bagiku.
Lihatlah aku wahai kekasihku..
Aku masih ingin menaiki mobil-mobilan itu. Aku tak mampu menjadi wanita tangguh di depanmu. Aku hanya bisa tertawa dan bermanja-manja di depanmu. Tak mampu menata bahasa yang sopan dan membawa diri dengan rapi. Aku di hadapanmu hanyalah raga yang ingin tertawa lepas. Karena selama ini raga asli kami dikurung dalam balutan "wani ditata". Sungguh diri ini tak sanggup menjadi orang lain di hadapanmu. Egois, keras kepala, kaku, sukar untuk mengerti namun selalu meminta untuk dimengerti.
Wahai kekasihku..
Terima kasih, selalu memberi senyum walau hatimu berbeda. Terima kasih telah menjadi penyabar di setiap keadaan. Terima kasih telah mengatakan banyak "iya" untuk semua "tidak" yang kau inginkan. Aku tahu, bahumu lelah, mata yang sayu karena tanggungjawab untuk orang yang engkau sayangi begitu banyak.
Wahai kekasihku..
Tetaplah menjadi penyabar dan tak kan berubah. Pandu langkah hidup yang ringkih ini menjadi langkah yang pasti. Arah tujuan kini menjadi pandumu untukku. Kemanapun engkau pergi, semoga engkau segan untuk menolehkan kepala lebih rendah supaya aku mengerti.
Terima kasih kekasihku, semoga Allah selalu menjagamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar