Alunan musik ini menuntunku
sekarang, menuju tempat yang lebih tinggi. Entah lebih tinggi kesadarannya,
atau lebih tinggi khayalannya. Aku terperanjat saat suara gitar listrik ini
begitu berdentang ketukannya di telingaku. Drum Kai yang jarang diperdengarkan dentuman
kerasnya. Hanya mendengar suara serak Ruki, ya, vokalis favoritku. Gazette yang
selama ini menjadi band favoritku, yang selalu bercerita tentang kehilangan
yang begitu dalam sama seperti apa yang kurasakan selama ini. Seseorang
berkata, tak perlu menantikan bila tak pernah diperdulikan.
Aku sekarang meleleh di dalamnya,
dalam rindu dan cinta yang tak seharusnya. Cinta dan kerinduan yang tak
berwujud. Keserasian yang hanya bayangan di dalam dunia imajinasi. Semuanya
bercampur menjadi satu. Kenangan, air mata, dan kerinduan, bahkan penyesalan
turut hadir untuk menemaninya. Apa yang terjadi dalam diri yang rapuh dan mulai
pecah ini. Andai aku bisa seperti Kyu dan Naruto yang selalu memiliki
ketangguhan tak terkalahkan dalam dirinya. Memiliki tekad sekuat itu pasti aku
tak terkalahkan. Kesombongan yang mulai menyelimuti ini, hadirlah nanti saja
saat aku sudah menyadari bahwa diriku berharaga. Sebenarnya tanpa menungguku
pun tidak menjadi masalah. Sebenarnya kepalaku ingin berhenti berpikir dengan
semua hal yang satu-persatu ini menyesakkan nafasku. Kesadaranku tak seimbang
dan air mata yang tak dapat dikendalikan.
Jujur, aku tak ingin menyalahkan
siapapun, termasuk diriku. Bukan berarti aku bisa menyalahkan orang lain demi
diriku yang pemalas ini. Aku bahkan mulai hancur dengan hati yang sudah lama
retak. Tak terdengar lagi kata hati itu, bisikan malaikat yang lembut, sudah
tak terdengar lagi. Menjauh, menjauh dari sisi yang telah runtuh ini. Aku tak
memintamu kembali karena akulah yang memutuskan untuk pergi. Dua hal yang tak
bisa dipungkiri, semua telah berlalu dan tak ada hal yang bisa kembali. Begitu jauhnya
masa lalu membuat keputus asaan ini semakin pekat.
Terakhir, mataku pasti telah berubah
saat menatapmu esok. Wajahku tak akan sama lagi. Kehadiranku juga tak akan
mendukungku lagi. Akankah kuputuskan untuk pergi dari semua ini? Aku yakin
matamu juga, wajahmu juga, dan tatapan itu serata senyum itu. Mungkin esok
semua telah berubah. Entahlah, aku hanya berharap yang terbaik untuk kita
semua. Mengalir seperti aliran hulu menuju hilir? Seseorang membuka pikiranku,
bahkan aliran dimulai dari atas menuju ke bawah. Lalu apakah kehidupan ini akan
terus mengalir dari atas ke bawah? Akankah terus begitu? Kitalah pemilik takdir
kita. Kitalah sutradara cerita hidup kita. Kitalah penghancur hidup kita. Kita pula
yang memperindah hidup kita. Jangan mencoba pergi dan mengalihkan diri dari
penyataan ini, karena semakin kita tak mempercayai diri kita untuk bisa
bahagia, maka semakin jauh pula kebahagiaan dari hidup kita. Bahkan bila kita
membuka pikiran kita, mindfulness,
positive thinking, dan the law of
attraction. Relaksasi dan evaluasi yang dilengkapi dengan visualisasi. Mungkin
semua akan membaik sedikit demi sedikit.
Bagaimana? Aku harus bagaimana?
Bukankah terlalu banyak berpikir atau overthinking
membuat diri kita semakin melemah untuk melakukan sesuatu? Aku tak ingin lupa
namanya beraksi. Aku tak ingin membuat perbuatanku dihambat oleh ribetnya cara
berpikirku. Semua orang pun setuju bahwa pemikiran yang sederhana mampu
menyelesaikan banyak masalah. Yosh, bahkan aku lupa bagaimana caramu membuatku
tenang dan nyaman. Bukankah aku telah diberi contoh pada saat aku bersamamu. Entahlah,
semua akan pergi bahkan apa yang telah kau ajarkan memudar satu-persatu dalam
diriku. Esensimu tertinggal di benakku, mungkin seraya waktu berjalan, ia akan
mengendap di alam bawah sadar. Kemudian menuntunku menyelesaikan semua
masalah-masalah dan kepenatanku selama ini. Kaulah penyebab aku menjadi seperti
ini, dan kaulah tabibnya ketika hati ini menjadi begitu kehilangan jati
dirinya. Aku tak pernah membencimu, aku akan terus berterimakasih karena kau
terus menuntunku, malaikat di samping kanan pundakku. Terimakasih ^^ arsyazieq..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar