Sabtu, 04 Mei 2019

Untuk hati yang tak terpatahkan


Alunan musik ini menuntunku sekarang, menuju tempat yang lebih tinggi. Entah lebih tinggi kesadarannya, atau lebih tinggi khayalannya. Aku terperanjat saat suara gitar listrik ini begitu berdentang ketukannya di telingaku. Drum Kai yang jarang diperdengarkan dentuman kerasnya. Hanya mendengar suara serak Ruki, ya, vokalis favoritku. Gazette yang selama ini menjadi band favoritku, yang selalu bercerita tentang kehilangan yang begitu dalam sama seperti apa yang kurasakan selama ini. Seseorang berkata, tak perlu menantikan bila tak pernah diperdulikan.
Aku sekarang meleleh di dalamnya, dalam rindu dan cinta yang tak seharusnya. Cinta dan kerinduan yang tak berwujud. Keserasian yang hanya bayangan di dalam dunia imajinasi. Semuanya bercampur menjadi satu. Kenangan, air mata, dan kerinduan, bahkan penyesalan turut hadir untuk menemaninya. Apa yang terjadi dalam diri yang rapuh dan mulai pecah ini. Andai aku bisa seperti Kyu dan Naruto yang selalu memiliki ketangguhan tak terkalahkan dalam dirinya. Memiliki tekad sekuat itu pasti aku tak terkalahkan. Kesombongan yang mulai menyelimuti ini, hadirlah nanti saja saat aku sudah menyadari bahwa diriku berharaga. Sebenarnya tanpa menungguku pun tidak menjadi masalah. Sebenarnya kepalaku ingin berhenti berpikir dengan semua hal yang satu-persatu ini menyesakkan nafasku. Kesadaranku tak seimbang dan air mata yang tak dapat dikendalikan.
Lagi-lagi aku tak dapat menjelaskan dengan benar bagaimana diriku yang sebenarnya. Padahal aku sedang hidup, namun semangatku tak hidup. Keinginanku padam, keimananku goyah, dan sering membuang waktu untuk hal yang sia-sia. Aku sempat berkali-kali ditanya bagaimana aku ke depannya. Seperti tak ada komitmen dalam diriku. Aku terjebak dalam dunia yang kuciptakan dengan penuh kebingungan ini. Jauh dari kesadaran, hanya mengandalkan ilusi yang tak beraturan. Kau tau, tulisan ini lebih tak beraturan lagi dan sangat menggambarkan kondisiku sekarang.
Jujur, aku tak ingin menyalahkan siapapun, termasuk diriku. Bukan berarti aku bisa menyalahkan orang lain demi diriku yang pemalas ini. Aku bahkan mulai hancur dengan hati yang sudah lama retak. Tak terdengar lagi kata hati itu, bisikan malaikat yang lembut, sudah tak terdengar lagi. Menjauh, menjauh dari sisi yang telah runtuh ini. Aku tak memintamu kembali karena akulah yang memutuskan untuk pergi. Dua hal yang tak bisa dipungkiri, semua telah berlalu dan tak ada hal yang bisa kembali. Begitu jauhnya masa lalu membuat keputus asaan ini semakin pekat.
Terakhir, mataku pasti telah berubah saat menatapmu esok. Wajahku tak akan sama lagi. Kehadiranku juga tak akan mendukungku lagi. Akankah kuputuskan untuk pergi dari semua ini? Aku yakin matamu juga, wajahmu juga, dan tatapan itu serata senyum itu. Mungkin esok semua telah berubah. Entahlah, aku hanya berharap yang terbaik untuk kita semua. Mengalir seperti aliran hulu menuju hilir? Seseorang membuka pikiranku, bahkan aliran dimulai dari atas menuju ke bawah. Lalu apakah kehidupan ini akan terus mengalir dari atas ke bawah? Akankah terus begitu? Kitalah pemilik takdir kita. Kitalah sutradara cerita hidup kita. Kitalah penghancur hidup kita. Kita pula yang memperindah hidup kita. Jangan mencoba pergi dan mengalihkan diri dari penyataan ini, karena semakin kita tak mempercayai diri kita untuk bisa bahagia, maka semakin jauh pula kebahagiaan dari hidup kita. Bahkan bila kita membuka pikiran kita, mindfulness, positive thinking, dan the law of attraction. Relaksasi dan evaluasi yang dilengkapi dengan visualisasi. Mungkin semua akan membaik sedikit demi sedikit.
Bagaimana? Aku harus bagaimana? Bukankah terlalu banyak berpikir atau overthinking membuat diri kita semakin melemah untuk melakukan sesuatu? Aku tak ingin lupa namanya beraksi. Aku tak ingin membuat perbuatanku dihambat oleh ribetnya cara berpikirku. Semua orang pun setuju bahwa pemikiran yang sederhana mampu menyelesaikan banyak masalah. Yosh, bahkan aku lupa bagaimana caramu membuatku tenang dan nyaman. Bukankah aku telah diberi contoh pada saat aku bersamamu. Entahlah, semua akan pergi bahkan apa yang telah kau ajarkan memudar satu-persatu dalam diriku. Esensimu tertinggal di benakku, mungkin seraya waktu berjalan, ia akan mengendap di alam bawah sadar. Kemudian menuntunku menyelesaikan semua masalah-masalah dan kepenatanku selama ini. Kaulah penyebab aku menjadi seperti ini, dan kaulah tabibnya ketika hati ini menjadi begitu kehilangan jati dirinya. Aku tak pernah membencimu, aku akan terus berterimakasih karena kau terus menuntunku, malaikat di samping kanan pundakku. Terimakasih ^^ arsyazieq..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar